Takhrij Hadis Bab Ikhlas dalam Kitab Kifayatul Atqiya’

Kifatul Atqiya’ wa Minhajul Asfiya’ merupakan karya monumental Sayyid Abi Bakar yang dikenal dengan al-Sayyid Bakri Al-Makki Ibnu Sayyid Muhammad Syatha al-Dimyati, kitab ini merupakan syarah Kitab Hidayatul Atqiya’ Ilaa Thariqil Auliya’. Di dalam fihris (Daftar isi) kitab ini terdiri dari 120 kajian, di antaranya adalah Bab Ikhlas. Melihat metode penyampaian yang digunakan adalah dengan metode syair yang diberi syarah (penjelasan), serta diakhiri dengan I’rabul Kalimat.

Kitab tersebut merupakan kitab tasawuf yang dikaji di berbagai pesantren mulai dari pesantren tradisional, semi salaf hingga pesantren Modern. Namun bagi penulis masih tersisa sebuah pertanyaan, apakah semua hadis dalam kitab tersebut berstatus Shahih, Hasan ataupun Dhaif, maka di sinilah perlunya meneliti lebih jauh tentang kualitasnya. Yang di dalam Ilmu Hadis di kenal dengan Nagdu Sanad ataupun Naddu al-Matni.

Untuk melakukan kritik hadis maka diperlukan berbagai kitab penunjang seperti Kitab al-Tahdzib wa Tahdzib, Al-Rijal Haula Rasul, Usul Al-Hadis karya A’jaj al-Khatib, al-Mu’jam Al-Mufahros, Karya A.J Wensink, dan kitab-kitab induk hadis seperti, Shahih Bukhari, Shahih Muslim , Shahih Turmudzi, Shahih al-Nasa’ie. Semuanya merupakan penunjang di dalam melakukan kritik hadis.

Bagaimana jika selipan hadis dalam kitab Kifayatul Atqiya’ terjadi pertentangan antara ulama Hadis, maka di sinilah penulis memerlukan sebuah metode untuk memutuskan status hadis tersebut. Oleh karena itu penulis menggunakan metode yang diajarkan oleh A’jaj Al-Khatib dalam kitab Usulul Hadis dengan 3 metode: Pertama Taqdim al-Jarh (mendahulukan ketercelaan), Kedua, Ta’dil, Ketiga, membandingkan keduanya.

Kemudian langkah selanjutnya penulis membuka kitab Kifayatul Atqiya’ pada Bab Ikhlas pada halaman 32. Ternyata setelah menelusuri syarahan dari pengarangnya, penulis menemukan lima hadis, namun penulis hanya mengambil dua hadis yang menjadi objek penelitian ini, yaitu:

“ان الله لا يقبل من العمل” dan “من فارق الدنيا علي الاخلاص”. karena dua redaksi hadis tersebut masih belum tercantum perawinya, maka di sinilah perlu mencari siapa saja perawinya, dengan menggunakan kitab Mu’jam Al-Mufahras, dengan cara mencari kata fi’ilnya: “قارق- يقبل”. Maka setelah ditelusuri di dalam kitab Mu’jam Al-Mufahras, ternyata dua hadis tersebut ditemukan di dalam kitab an-Nasa’ie dan kitab Ibnu Majah.

Teks Hadis Pertama

أخبرنا عيسي بن هلال الحمص قال حدثنا محمد بن حمير قال حدثنا معاوية بن سلام عن عكرمة ابن عمار عن شداد ابي عمار عن ابي امامة الباهلي قال, جاء رجل الي النبي صلي الله عليه وسلم فقال : أرأيت رجلا عزا يلتمس الأجر والذكر ماله فقال رسول الله صلي الله عليه وسلم (لا شيئ له) فاعادها ثلاثا مرات يقول له رسول الله صلي الله عليه وسلم (لا شيئ له) ثم قال “إن الله لايقبل من العمل الاما كان له خالصا وابتغي به وجهه. (عبد الرحممن النسائي , سنن النسائي , بيروت دار الفكر:)

Artinya: Isa Bin Hilal al-Himsyi menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Humair menceritakan kepada kami, dia berkata, Muawiyah Bin Salam dari Ikrimah Ibnu Umar, Ibnu Ammar dari Saddad Ibnu Ammar dari Abi Umamah Al-Bakhiliy berkata: Datanglah seorang laki-laki kepada nabi Muhammad Saw lalu ia bertanya, “apakah engkau melihat seorang laki-laki yang berperang lalu dia minta upah dan menyebut-nyebut hartanya?”. Rasulullah Saw menjawab “(tidak ada upah baginya),”. Rasulullah Saw mengulang kalimat tersebut sampai tiga kali, kemudian Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali terdapat rasa ikhlas dan mencari ridha-Nya”. (Abd Rahman an-Nasa’ie¸ Sunan Al-Nasa’ie, (Beirut: Dar al-Fikr: Tt), Hal 19-20).

Setelah ditemukan mata rantai sanad dari hadis tersebut, maka langkah selanjutnya adalah menelusuri penilaian para krtikus hadis melalui kitab al-Tahdzib wa Tahdzib karya Hafidz Sihabuddin Ahmad Bin Ali Ibnu Hajar Al-Asqalani, mulai dari Isa Bin Hilal Al-Himsyi – Muhammad bin Himyar Muawiyah bin Salam-Ikrimah Ibnu Ammar-Saddad Abi Ammar-. Sementara ditingkat sahabat dan kolektor hadis seperti, Abi Umamah Al-Bakhiliy dan an-Nasa’ie tidak perlu dikritisi sebagaimana pendapat A’jaj al-Khatib dalam kitab Usul Al- Hadis.

Ternyata setelah diteliti dari seluruh sanadnya, dapat disimpulkan bahwa hadis tentang ikhlas yang diajarkan Nabi Saw kepada Abu Umamah al-Bakhiliy dan disampaikan dengan sanad-sanad lainnya hingga kepada an-Nasa’ie adalah Dhaif, karena terdapat salah satu perawi yang dinilai cacat oleh kritikus hadis yaitu Ikrimah Ibnu Ammar.

Teks Hadis Kedua

حدثنا نصر بن علي الجهضمي, حدثنا ابو احمد, حدثنا ابو جعفر الرازي, عن الربيع بن انس عن انس بن مالك قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : من فارق الدنيا علي الاخلاص لله وحده وعبادته لاشريك له واقام الصلاة واتاء الزكاة مات والله عنه راض.(حافظ ابو عبد الله بن يزيد القزوين , ابن ماجه , الجزء الاول)

Artinya : Nashr Bin Ali Al-Jahdhami menceritakan kepada kami, Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Abu Ja’far al-Raziy menceritakan kepada kami dari Rabi’ Bin Anas dari Anas Bin Malik berkata: Bersabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang memisahkan dunia dengan ikhlas karena Allah dan ibadah yang tidak disertai dengan syirik, melaksanakan salat, menunaikan zakat, maka ia akan mati dalam keadaan diridhai Allah”. (Hafidz Abu Abdullah Muhammad Bin Yazid al-Quswaen, Ibnu Majah¸ (Tt: Dar Al-Fikr: 1415/1995M), Juz I hal: 39).

Dari paparan data sanad hadis kedua tentang ihklas dalam kitab Kifayatul Atqiya’ halaman 32 tersebut dapat disimpulkan bahwa hadis yang diajarkan Anas bin Malik kepada sanad-sanad lainya hingga kepada Ibnu Majah adalah Hadis Hasan, karena telah memenuhi syarat hadis hasan seperti Ittisal al-Sanad, dan semua sanadnya memiliki nilai tsiqah, meskipun ada satu orang yang memiliki nilai hasan dan tidak mengandung syadz dan juga tidak terdapat Illat (Cacat).

 

- Advertisement -

Tentang Penulis

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru