Sastra dan Masyarakat Arab pada Masa Dinasti Umayyah

Kehadiran Islam di tanah Arab telah membawa pengaruh dan perubahan di dalamnya, baik dari segi agama, politik, bahkan sampai pada keadaan sosial. Jika dalam suatu masyarakat terdapat perubahan yang signifikan seperti itu, maka dapat dipastikan hal tersebut berpengaruh juga terhadap corak pemikiran serta bahasa yang digunakan sehari-hari.

Perkembangan karya sastra yang dijadikan sebagai alat komoditas telah menjadi fenomena tersendiri dan memberikan warna pada tema-tema yang diekspresikan. Mengutip pernyataan Langland bahwa karya sastra sendiri merupakan suatu refleksi dari lingkungan budaya serta sebuah teks dialektika antara pengarang dan situasi sosial yang membentuknya, atau dapat juga dikatakan sebagai saksi dari penjelasan sejarah dialektik yang memang dikembangkan dalam karya sastra (Fananie, 2001: 132).

Oleh karena itu, memahami karya sastra tidak dapat dilihat hanya pada teks dan teorinya saja, tetapi juga harus memahami lebih jauh persoalan-persoalan yang terdapat di luar teks tersebut, seperti persoalan politik, sosial, agama, yang seringkali mewarnai pembentukan karya sastra. Karya sastra sendiri dapat dijadikan sebagai refleksi kehidupan dari berbagai macam dimensi yang ada, bahkan sastra memiliki fungsi psikologis karena mampu mengabadikan pengalaman hidup seorang sastrawan.

Saat ini, kita akan melihat lebih jauh bagaimana perkembangan sastra pada masa Bani Umayyah. Bani Umayyah berdiri selama kurang lebih 90 tahun, yaitu pada tahun 41-132 H atau 661-750 M, dimulai dengan pengangkatan Muawiyyah bin Abi Sufyan sebagai khalifah yang menggantikan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Kemunculan sastra pada masa ini, ditandai oleh adanya gejolak politik khususnya dari kelompok-kelompok yang merasa dirinya tertindas. Sebetulnya, selain akibat dari gejolak politik yang terjadi pada masa sebelumnya, hal ini juga terjadi karena adanya pemberlakuan sistem pemilihan khalifah secara turun-temurun.

Kondisi ini diperkeruh dengan adanya sikap otoriter dari pemerintah dan juga sikap superioritas dari kalangan bangsa Arab terhadap non-Arab. Hal ini tentu saja memicu keresahan serta kebencian yang berkepanjangan, sehingga melahirkan kelompok-kelompok pembangkang dan pemberontak sehingga berdampak pada runtuhnya masa pemerintahan Umayyah.

Perkembangan sastra pada masa ini, tidak dapat dipisahkan dari lahirnya kelompok-kelompok yang saling bersaing, seperti Syi’ah, Khawarij, Zubairiyin, dan kelompok Muawiyyah, di mana saat itu setiap kelompok saling mengandalkan sastra sebagai alat propaganda. Saat itu, para sastrawan dibayar oleh salah satu kelompok yang sedang bersaing tersebut untuk membuat karya yang berisikan pemujian terhadap pemimpin kelompok dan perendahan terhadap kelompok lainnya. Sehingga, karya sastra yang lahir dipenuhi dengan intrik politik, polemik, dan propaganda.

Seperti yang kita tahu bahwa karya sastra secara umum bisa terbagi dalam dua jenis, yaitu prosa dan puisi. Dan prosa pun dapat dibagi lagi menjadi beberapa bentuk, yaitu al-masal, al-rasail, al-hikam, dan al-khutbah. Pada masa Umayyah, yang paling menonjol adalah al-khutbah atau biasa kita sebut sebagai pidato. Saat itu, pidato digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan beberapa hal yang penting, seperti ajaran keagamaan, semangat juang para prajurit, jiwa nasionalisme, dan paham fanatisme golongan.

Adanya tema-tema di atas disebabkan oleh perpecahan di antara umat Islam, yaitu sejak terjadinya peperangan antara golongan Ali bin Abi Thalib dan Muawiyyah bin Abi Sufyan yang dikenal dengan Perang Shiffin. Tidak hanya itu, hadirnya kelompok Khawarij yang tidak setuju dengan sikap Ali bin Abi Thalib karena telah mengambil keputusan arbritase dan ketidaksetujuannya terhadap kelompok Muawiyyah yang berlaku curang. Saat itu pula, masing-masing kelompok memiliki doktrin dan berusaha menarik para penyair untuk mendukung pihaknya, serta saling tarik-menarik dukungan sebanyak-banyaknya.

Golongan pada masa Bani Umayyah merupakan golongan yang memiliki kekuasaan, sehingga para penyair yang telah dibayar itu berada di bawah tekanan politik dan diharuskan untuk memuji kemuliaan khalifahnya. Hal ini terjadi juga pada syair al-Akhthal, yaitu.

وان تجدت على الأفاق مظلمة # كان لهم مخرج منها ومعتصر

شمس العداوة حتى يستقاد لهم # وأعظم الناس أحلاما اذا قدراوا

Melalui syairnya, al-Akhthal memuji kekuasaan Bani Umayyah. Ia menceritakan bahwa ketika terjadi kerusuhan, hiruk-pikuk, peperangan antar kelompok, yang memberikan bantuan, perlindungan, serta keselamatan hanyalah kekuasaan Bani Umayyah. Dengan kekuasaan yang diembannya, para pemimpin Umayyah dapat membantu setiap orang yang membutuhkan pertolongan.

Bukan hanya al-Akhthal, salah seorang yang mempertahankan eksistensinya adalah al-Kumait bin Zaid al-Asadiy yang diutus dari kubu Syi’ah. Melalui kefasihan lidahnya, al-Kumait berusaha untuk mengekspresikan kemuliaan Bani Hasyim.

بنى هاشم رهط النبي فانني # بهم ولهم أرضى مرارا وأغضب

وكنت لهم من هؤلاء وهؤلاء # محبا على أني أذم وأقصب

وأرمى وأرمى بالعداوة أهلها # واني لأوذى فيهم وأؤنب

 Dalam syair tersebut, al-Kumait bin Zaid al-Asadiy rela mengorbankan nyawanya untuk membela dan mempertahankan keluarga Bani Hasyim, di mana mereka selalu dikucilkan, dilecehkan, dan direndahkan oleh Bani Umayyah. Kekuasaan yang diemban oleh Bani Umayyah dijadikan sebagai alat untuk menzalimi kelompok-kelompok yang tidak sejalan dan menentang kebijakannya. Maka dari itu, al-Kumait melalui syairnya memberikan dorongan dan semangat kepada Bani Hasyim untuk dapat melawan Bani Umayyah.

- Advertisement -

Tentang Penulis

Anna Zakiyyah Derajat
Pemerhati Sastra dan Kajian Timur Tengah

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru