Resistansi Sastra Terhadap Tindakan Kolonialisme

Resistansi atau perlawanan terus menjadi daya tarik bagi para ilmuwan sosial. Hingga, pada akhir tahun 1980-an, resistansi menjadi sebuah tren yang dijadikan sebagai pandangan untuk menelaah berbagai kasus yang bersifat empiris.  Menurut Barbara Harlow dalam bukunya yang berjudul Resistance Literature bahwa ada hubungan integral antara perlawanan bersenjata dengan sastra perlawanan itu sendiri. 

Perlawanan dan gerakan pembebasan nasional yang dicerminkan dan dapat dikatakan memiliki kontribusi, tidak hanya menuntut pengakuan atas status dan eksistensinya yang mandiri sebagai produk sastra, tetapi juga menjelaskan tentang tantangan terhadap simbol dan teori, serta praktik dan kritik sastra yang berkembang di Barat. 

Ketika perlawanan bersenjata menjadi bentuk dari sebuah perlawanan yang berfokus pada struktur kekuasaan, Harlow lebih memilih untuk memfokuskan perhatiannya pada signifikasi dari bentuk-bentuk perlawanan kultural. Ia meyakini bahwa perlawanan kultural tidaklah lebih kurang nilainya dibandingkan dengan perlawanan yang menggunakan senjata itu sendiri. Dalam hal ini, Harlow menyederhanakan pemikirannya ke dalam dua poin, yaitu resistansi budaya dan propaganda politik.

Menurut Harlow, sastra perlawanan merupakan bagian dari perlawanan budaya secara keseluruhan. Meskipun sejumlah besar sastra perlawanan ditulis dalam Bahasa Inggris atau bahasa kekuatan kolonial. Tetapi, sebagian besar pun menggunakan bahasa Prancis, Portugis dan Spanyol sebagai perwakilan yang memiliki pengaruh dari kolonial lainnya. 

Sastra perlawanan terus mengobarkan perjuangan untuk pembebasan di berbagai wilayah. Perjuangan yang berkelanjutan ini menjadi bagian dari agenda politik dan budayanya. Resistansi atau perlawanan budaya (muqa>wamah) pertama kali diterapkan dalam deskripsi sastra Palestina pada tahun 1966, yang ditulis oleh penulis dan kritikus Palestina, Ghassan Kanafani dalam studinya Literature of Resistance in Occupied Palestine: 1948-1966. Esai kritis Kanafani secara signifikan, ditulis pada tahun 1966, sebelum terjadinya Perang Juni 1967 yang puncaknya kekalahan tentara Mesir dan Yordania oleh pasukan Israel, sehingga mengakibatkan pendudukan Israel di Tepi Barat Sungai Yordan dan Jalur Gaza, serta pembukaan perbatasan wilayah-wilayah yang sekarang disebut sebagai wilayah pendudukan. 

Dengan demikian, Kanafani mengusulkan perbedaan penting antara sastra yang ditulis di bawah pendudukan dan sastra pengasingan. Pembedaan seperti ini mengandaikan hubungan kolektif masyarakat dengan tanah airnya, identitas bersama, atau dari dasar permasalahan yang sama, sehingga menjadi tonggak untuk mengartikulasikan perbedaan di antara dua mode keberadaan historis dan politik, antara pendudukan dan pengasingan. 

Mengutip perkataan Harlow bahwa Ghassan Kanafani merepresentasikan sastra Palestina sebagai resistansi sastra. Di mana, di dalamnya tertulis konteks sejarah tertentu, konteks yang mungkin paling dekat terletak dalam perjuangan pembebasan nasional kontemporer dan gerakan perlawanan melawan dominasi imperialis Barat di Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, serta Timur Tengah dan Timur Jauh. Akan tetapi, kedekatan dan kekhususan konteks historis tersebut mengungkapkan peran yang lebih luas, yang dapat dimainkan oleh sastra perlawanan secara khusus, atau secara umum Harlow menyebutnya sebagai “Sastra Dunia Ketiga.” Dalam disiplin sastra, gerakan dan tren politik saat itu, terutama di “Dunia Ketiga,” juga memaksakan tinjauan tentang apa yang dipahami oleh sastra dan studi sastra. 

Istilah “Dunia Ketiga,” bagaimanapun, telah menjadi salah satu yang bermasalah dan tampaknya saat ini memiliki lebih banyak kekuatan retoris daripada presisi analitik. Seperti yang Eric Wolf katakana bahwa Timur adalah Timur, dan Barat adalah Barat. Keduanya tidak akan pernah bertemu. Dengan cara ini, Barat klasik tentu disandingkan dengan Timur klasik, di mana kehidupan bernilai murah dan banyak budak yang merendahkan diri di bawah berbagai despotisme.  Kemudian, ketika orang-orang di iklim lain mulai menegaskan kemerdekaan politik dan ekonomi mereka dari Barat dan Timur, hal ini dikatakan sebagai babak historis ke Dunia Ketiga yang terbelakang, di mana menjadi kontras dengan Barat yang maju dan Timur yang sedang berkembang. Tak pelak, mungkin, kategori-kategori yang direifikasi ini menjadi instrument intelektual dalam penuntutan Perang Dingin.

Dengan demikian, sejarah Dunia Ketiga telah didefinisikan secara beragam. Bagi sebagian sejarawan, sejarah itu bertepatan dengan sejarah kolonialisme. Menurut LS Stavrianos, di Global Rift, sejarah Dunia Ketiga itu dimulai dengan munjulnya kapitalisme komersial antara tahun 1400 dan 1770. Historiografi Dunia Ketiga tetap terlibat dalam kondisi yang menghasilkannya. Peter Worsley telah menunjukkan beberapa perbedaan ini. Hubungan kolonial adalah hubungan antara masyarakat, yang masing-masing memiliki institusi sosialnya sendiri yang khas dan perbedaaan sosial internal, budaya, serta subkulturnya. 

Terlepas dari kekuatan politik penakluk, setiap koloni adalah produk dialektika, sebuah sintesis, bukan hanya pemaksaan sederhana di mana institusi sosial dan nilai-nilai budaya ditaklukkan yang kemudian disebut sebagai salah satu istilah dialektika. Sejarah kolonialisme yang ditulis oleh kaum imperialis mengabaikan salah satu istilah ini, sejarah adalah kisah tentang apa yang dilakukan oleh orang kulit putih.

Ghassan Kanafani dalam studi sastra pendudukan Palestinanya, memanfaatkan perbatasan yang baru dibuka antara Israel dan Tepi Barat yang diduduki. Kemudian, menegaskan hubungan integral antara perlawanan bersenjata dan sastra perlawanan. Seperti Amilcar Cabral, seorang pemimpin gerakan pembebasan Guinea-Bissau dan ahli utama teori perlawanan, serta pembebasan Afrika yang menyatakan bahwa budaya telah menancapkan akarnya ke dalam realitas fisik humus lingkungan, di mana ia berkembang. Kanafani juga mengklaim bahwa perlawanan bersenjata bukan hanya sekam, tetapi buah dari pemaksaan budidaya; akarnya jauh ke dalam tanah.

Maka dari itu, kedua pemikir perlawanan ini juga, menempatkan kekhususan historis gerakan perlawanan dalam perjuangan kolektif yang lebih besar di seluruh dunia. Dengan demikian, Harlow menegaskan dalam bukunya bahwa bentuk-bentuk perlawanan budaya dalam menentukan strategi umum organisasi perlawanan itu penting. Jika perlawanan muncul dari laras senjata, maka senjata itu sendiri muncul dari keinginan untuk pembebasan. 

Selain dari segi resistansi budaya, Harlow pun memandang permasalahan dalam sastra perlawanan ini dari segi propaganda politiknya juga. Menurut Armand Mattelart, gagasan teori itu tidak luput dari kontingensi kriteria relevansi yang diuraikan setiap budaya untuk teori itu sendiri. Produksi budaya memainkan peran yang menentukan dalam memahami sejarah resistansi.

Sastra perlawanan memiliki perhatian pada dirinya sendiri dan sastra secara umum, yang dijadikan sebagai aktivitas politik. Sastra perlawanan juga dapat melihat jauh dari itu, sehingga dapat langsung terlibat dalam perjuangan melawan bentuk-bentuk produksi ideologis dan budaya yang mendominasi. Namun, satu bahaya yang tidak kalah mengancam dibandingkan dengan penindasan eksternal ayng diakibatkan oleh kebijakan imperialism, kolonialisme, dan keterbelakangan yang dihadapi oleh gerakan perlawanan, yaitu kegagalan untuk mengakui keterbatasan peran historis mereka sendiri.

Organisasi perlawanan dan gerakan pembebasan nasional mewakili perjuangan kolektif dan bersama melawan dominasi, serta penindasan hegemonik. Namun, di dalam organisasi tersebut tidak juga terlepas dari kontradiksi dan perdebatan internal, yang menunjukkan bahaya citara yang terlalu monolitik atau tidak kritis dari gerakan dan perjuangan semacam itu. Tetapi, justru kontroversi kritis inilah yang menopang agen aktif gerakan di arena sejarah politik dunia dan perjuangan untuk budaya, yang perlu dielaborasi secara teorits dan diberi bobot historis dan sosiologis secara penuh. 

Sementara, gerakan perlawanan kontemporer dan organisasi pembebasan nasional, sangat mendesak untuk mengambil peran penuh dalam arena sejarah dekolonisasi. Penting juga bahwa mereka tidak dibatasi oleh bayang-bayang Dunia Pertama, seperti apa yang telah dikritik oleh Gayatri Spivak sebagai alegori perwakilan belaka dari praktik politik yang benar. 

Dinamika perdebatan, di mana politik budaya perlawanan terlibat menantang, baik praktik dominasi historiografis monolitik maupun tanggapan dogma terhadapnya. Pembebasan nasional suatu bangsa dapat dikatakan terbebas dari banyaknya tekanan dan dominasi jika memperoleh kembali kepribadian historis dari bangsa itu sendiri, dengan kembalinya bangsa tersebut pada sejarahnya melalui penghancuran dominasi imperialis yang telah mereka tundukkan. Jika sosial dapat cenderung menggantikan politik dalam studi sastra dan budaya Barat, maka penekanan dalam sastra perlawanan adalah pada politik sebagai kekuatan untuk mengubah dunia. Karena, teori sastra perlawanan ada dalam politiknya.

Yuk! Baca Juga  Konflik Suriah Pasca Arab Spring dan Kekerasan Terhadap Perempuan

  Hubungan antara pascakolonialisme dan resistansi sastra terlihat jelas karena keduanya berbicara tentang penjajah dan kaum terjajah. Fanon menjelaskan terkait pandangannya tentang perlwanan terhadap penjajah dalam bukunya yang berjudul The Wretched of the Earth. 

Dia berpendapat bahwa pembebasan nasional, kebangkitan nasional, pemulihan bangsa kepada rakyat, serta dekolonisasi merupakan bentuk dari peristiwa kekerasan. Sehingga, Fanon percaya pada perlawanan terhadap kekerasan penjajah untuk mencapai dekolonisasi. Dalam memerangi kaum terjajah, tidak hanya dapat dilakukan secara fisik atau materialistis saja, tetapi juga dari segi mental dan emosionalnya. Sehingga, mampu menciptakan semacam perlawanan batin. Dalam hal ini resistansi batin psikologis menciptakan kesadaran diri yang direpresentasikan dalam bentuk kesadaran budaya melawan penjajah.

Yuk! Baca Juga  Konflik Suriah Pasca Arab Spring dan Kekerasan Terhadap Perempuan

Dengan demikian, perlawanan dengan senjata dapat dilakukan dalam proses dekolononisasi, tetapi faktanya resistansi budaya pun dapat dilakukan sebagai bentuk perlawanan tanpa kekerasan. Kesadaran diri dan budaya merupakan perlawanan tanpa kekerasan yang dapat mencapai hasil besar melawan kolonialisme. Sastra adalah sebuah produk penting sebagai bentuk perlawanan tanpa kekerasan yang dapat merangsang dan mengirim pesan perlawanan terhadap penjajah. 

- Advertisement -

Tentang Penulis

Anna Zakiyyah Derajat
Pemerhati Sastra dan Kajian Timur Tengah

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru