Nazik Al-Malaika, Penyair Perempuan Pionir Puisi Bebas

Di antara beberapa penyair perempuan Arab yang dikenal di kalangan Indonesia ialah Nazik al-Malaika. Ia lahir di Baghdad, Irak, pada 23 Agustus 1923 dan meninggal pada 20 Juni 2007 di usianya 83 tahun. Nazik al-Malaika—selanjutnya al-Malaika—merupakan penyair pertama yang mendobrak tatanan gaya puisi klasik yang mendominasi dunia Arab berabad-abad lamanya.

Perihal namanya itu, Nazik al-Malaika, diambil dari nama seorang bahadur yang telah memimpin serangkaian revolusi melawan tentara pendudukan Perancis di Suriah pada tahun 1923, yaitu Nazik al-Abid. Bisa dibilang al-Malaika lahir di lingkungan keluarga yang memiliki tradisi literasi yang sangat tinggi. Ayah dan ibunya merupakan seorang penyair sekaligus pengajar bahasa, telah mendorongnya untuk membaca sejak dini. 

Dengan latar belakang kedua orang tua sebagai penyair itu, tidak mengherankan jika al-Malaika menulis puisi untuk kali pertama pada usia 10 tahun. Kemudian menulis antologi puisi bersama ibu dan pamannya yang bertajuk Baina Ruhiy wa al-‘Alam yang dialihbahasakan menjadi Between My Soul and The World (Antara Jiwa dan Semesta). Antologi puisi pertamanya bertajuk ‘Ussyaq al-Lail (Para Pecinta Malam) yang diterbitkan pada tahun 1947 dengan gaya klasik, yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh kecenderungannya pada musik tradisional.

 

Al-Syair al-Hurr; Puisi Bebas

 

Al-Malaika adalah anomali dalam masyarakatnya. Lompatan dari puisi klasik ke puisi bebas sangat memicu kontroversial dan pada akhirnya ia menghadapi kritik tajam dari berbagai arah, terutama dari kalangan tradisionalis.

Mulanya ia telah mempelajari semacam alat musik gambus, ‘aud istilah Arabnya, di bawah bimbingan seorang komposer musik dan membuatnya sering bermain sendirian di tamannya selama berjam-jam. Ia tampaknya menikmati ketenangan dan menjalin hubungan romantis dengan alam, yang justru menyimpang dari arus utama puisi Arab yang lebih dominan tentang hasrat dan semangat yang menggebu.

Pada tahun yang sama, 1947, al-Malaika menerbitkan puisi terobosannya bertajuk “Kolera”. Ia berangkat dari sebuah maklumat yang ia dengar dari radio. Maklumat itu membuatnya getir; jumlah kematian akibat kolera semakin tak terkendali. Barangkali tepat jika disamakan dengan fenomena pandemi Covid-19 ini.

Simone Stevens dalam Nazik al-Malaika (1923-2007) Iraqi Women’s Journey Changes Map of Arabic (2008) menulis proses di balik penulisan puisi Kolera itu sebagaimana yang diterbitkan surat kabar elektronik Elaph, “Dalam satu jam aku—al-Malaika—telah menyelesaikan puisi itu dan pergi ke rumah adikku, Ihsan. Kukatakan kepadanya bahwa aku telah menulis puisi yang gayanya sangat ‘aneh’ dan bakal menimbulkan kontroversi. 

Begitu Ihsan membaca puisi itu, ia menjadi sangat mendukung. Tapi tidak dengan ibuku, ia menerima puisiku dengan dingin dan bertanya, “Rima macam apa ini?”

Meski mendapat reaksi tidak menyenangkan dari ibunya sendiri, ia tetap diam dan mengatakan, “Katakan apapun yang engkau inginkan, Ibu. Aku yakin puisiku akan mengubah peta perpuisian Arab.”

Kedua prediksi al-Malaika itu benar. Model puisi gaya bebas modern pada akhirnya menjadi sangat populer, meski pada awalnya ditolak oleh sebagian kalangan tradisionalis-konservatif. 

Dobrakan yang dilakukannya itu memang masih dipenuhi keraguan. Selain itu ia juga dihadapkan dengan dua kondisi; lingkungan intelektual yang membuka lebar-lebar pintu inovasi, dan karakter konservatif masyarakat yang menekan kecenderungan menuju modernisme.

 

Mengubah Konstruksi Sosial 

 

Simone (2008) juga menulis, pada tahun 1935, al-Malaika memberikan orasi di Women’s Union Club dengan tajuk “Women Between Two Poles: Negativity and Moral’s; Wanita di antara Dua Kutub: Negativitas dan Moral,” di mana ia menyerukan agar wanita di jazirah Arab dibebaskan dari stagnasi dan pandangan negatif yang telah tertanam di alam bawah sadar masyarakat Arab.

Al-Malaika dalam esainya, al-Mar’a baina ‘l-Tarafain: al-Salbiyyah wa ‘l-Akhlaq dan dialihbahasakan ke dalam Women Between the Extremes of Passivity and Ethical Choice, menentang sistem patriarki di tanah airnya, Irak, dan esai tersebut, dengan suara yang lantang, mampu membedah struktur sosial secara konstruktif. Misalnya perempuan Arab tidak pantas memiliki pendidikan tinggi, membuat keputusan sendiri, berkarir dan hanya melayani suami. Al-Malaika hendak mengubah itu.

Selain esai, salah satu puisinya yang paling fenomenal adalah Ghaslan li al-‘Ar, Membasuh Aib, mengangkat tema yang berani—tentang pembunuhan demi reputasi—dan menarik perhatian media internasional. 

Puisi itu berangkat dari peristiwa seorang wanita yang dibunuh oleh ayah—atau saudara lelakinya—karena telah mencemarkan nama baik keluarga dengan melakukan persetubuhan di luar pernikahan. 

Al-Malaika, dalam puisinya itu, dengan bahasa sederhana, menyampaikan rasa kesepian yang mengerikan dari sebuah kematian seperti itu. Sekutip puisi itu berbunyi;

 

“Ibu…” erangan, air mata, dan kegelapan

Darah mengalir keluar dan tubuh yang tertusuk itu tergetar

Rambut ikal mayang berserak di tanah

“Ibu…” hanya didengar oleh algojo

Esok, fajar akan datang dan mawar akan bangun

Para pemuda akan memanggil harapan yang hilang

Padang rumput dan bunga akan menjawab:

Dia pergi membasuh aib!

 

Gagasan al-Malaika mengenai puisi bebas itu telah menjadi topik perbincangan dalam dunia sastra. Seorang penyair pada umumnya sangat sadar akan psikologi pribadinya, dan ia tak segan mencoba menjelajahi semua relung gelapnya. Dan apa yang disuarakan al-Malaika itu perlahan mengubah konstruksi sosial Arab yang didominasi laki-laki.

Tidak sedikit karya yang ditinggalkan al-Malaika. Di antaranya Diwan Nazik al-Malaika yang terdiri dari 2 jilid tebal (Dar al-‘Audah, Beirut, 1997) yang ditulis dalam bahasa bahasa Arab. Puisinya juga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, salah satunya bahasa Inggris dengan tajuk, Revolt Against the Sun yang dieditori dan dialihbahasakan oleh Emily Drumsta.

- Advertisement -

Tentang Penulis

Khoirul Athyabil Anwari
Santri Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta. Sekarang tinggal di Kartasura

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru