Mengenal Aliran Klasik dan Romantik dalam Sastra

Aliran Klasik (Klasikisme)

Aliran klasik merupakan aliran sastra yang paling kuno yang pernah berkembang di Eropa. Aliran ini timbul sesudah lahirnya gerakan kebangkitan ilmu pengetahuan (Baath) yang dimulai pada abad 15 M. 

Diketahui bahwa gerakan kebangkitan ilmu pengetahuan itu hakikatnya adalah gerakan kebudayaan dan gerakan kebangkitan kesusastraan kontemporer yang kembali ke kesusastraan Arab klasik.

Pengertian klasik secara etimologis diambil dari bahasa Latin yaitu Classis yang artinya satuan armada laut. Kemudian berubah makna menjadi satuan pelajaran yaitu kelas yang terdiri atas anak-anak didik. Sastra klasik terdiri atas karya-karya tulis berbahasa Yunani dan Latin Kuno yang nyaris punah ditelan masa. 

Para ahli berusaha menyelamatkan karya-karya tulis tersebut, mengingat karya-karya ini mengandung seni dan nilai-nilai kemanusiaan. Karya-karya tulis ini dijadikan sarana yang dianggap tepat dalam pelaksanaan pendidikan terhadap para pemuda di dalam kelas atau ruang sekolah mereka.

Ketika kebangkitan ilmu pengetahuan telah berkembang dan orang-orang Eropa mulai kembali ke kebudayaan dan sastra Yunani dan Latin Kuno dengan mencetak serta menerbitkan naskah melalui pengkajian juga penerjemahannya. 

Mereka mulai menganalisis karya-karya sastra kuno tersebut dan berusaha mengungkapkan kandungan yang terdapat di dalamnya; baik secara langsung yaitu cara analisis dan apresiasi sastra maupun melalui penelaah setiap penemuan para pakar dan peneliti zaman dahulu, seperti Aristoteles dari Yunani dan Ras dari Romawi—kedua pakar ini telah berhasil menemukan dasar-dasar seni sastra. 

Aristoteles dalam tulisannya yaitu khitabah atau retorika dan puisi. Dan Horatius dalam puisinya yang panjang (seni puisi) atau pesan kepada Al-Benson yaitu puisi yang terinspirasi dari panyair dan kritikus besar klasik Prancis yaitu Boileau dalam rinciannya yang disebut juga sebagai seni puisi. 

Klasikisme mengikuti prinsip-prinsip seni ini yang dipengaruhi oleh sastra Yunani dan Romawi dengan relevansinya adalah naluri yang damai. Yang kemudian dispesifikasikan menjadi karakteristik seni kemanusiaan yang absolut. 

Lebih daripada itu, secara umum, klasik mengandung arti mutu tinggi. Artinya bahwa klasik adalah sesuatu yang mempunyai nilai atau posisi yang diakui dan tidak diragukan. Dalam teori sastra, aliran klasik ini merupakan suatu karya yang memiliki nilai tinggi, selain itu juga aliran ini dijadikan sebagai orientasi dari sebuah karya sastra kuno yang bersifat kekal. 

Aliran sastra klasik telah menempuh teori sastra Yunani dan Romawi Kuno yang selalu tunduk kepada kaidah-kaidah seni sastra. Maka dari itu, aliran ini mempunyai keistimewaan dalam seni dan kemanusiaan. Keistimewaan dan keunggulan aliran klasik dilihat dari seni sastra. 

Keindahan dan kefasihan bahasa merupakan ciri khas dari aliran ini yang tidak dapat diabaikan. Arti yang jelas, makna yang mudah, irama puitis dan nada estetis akan selalu menjadi ciri khas aliran klasik yang tidak kalah penting dibandingkan ciri-ciri klasik lainnya. 

Aliran klasik selalu mendapatkan rongrongan dari para sastrawan dan pemerhati sastra sendiri. Aliran ini juga dituduh menghambat kemajuan dan perkembangan sastra. Karena terlalu ketat terikat oleh kaidah-kaidah yang menyesatkan. Kritikan dan tuduhan seperti ini kemudian melahirkan aliran baru dalam sastra yaitu romantisme. 

 

Aliran Romantik (Romantisisme) 

Pada mulanya, romantik bukan sebuah aliran sastra yang kita maksudkan. Aliran romantik baru resmi menjadi aliran sastra setelah satu setengah abad dari munculnya aliran sastra klasik. Kemunculan romantisme ini sebetulnya merupakan reaksi terhadap sastra klasik, baik dalam prinsip maupun kaidahnya. 

Kehadiran sastra romantik bertujuan merombak prinsip-prinsip maupun kaidah-kaidah dasar sastra Yunani dan Latin Kuno yang merupakan embrio dari sastra klasik. Romantik berasal dari kata Romanius yaitu sebuah kata dalam bahasa Latin Kuno yang pada dasarnya berupa dialek Romawi Kuno, jelasnya bahasa Latin yang berkembang pada abad-abad pertengahan. 

Sebelum munculnya masa kebangkitan sastra, bahasa Romawi Kuno belum tergolong bahasa dan sastra yang baik atau benar. Pada masa itu, bahasa Latinlah yang menjadi bahasa peradaban, kebudayaan dan bahasa ilmu pengetahuan. Bahasa-bahasa Latin seperti ini cukup terkenal di Prancis, Italia, Spanyol, Bulgaria, Romania dan Swiss. 

Orang-orang Roma sengaja memilih kata-kata ini untuk dijadikan istilah aliran sastra mereka dengan suatu tujuan yaitu menjauhkan sejarah, sastra dan budaya mereka dari sejarah, sastra dan kebudayaan Yunani serta Latin Kuno yang selalu menguasai aliran klasik, juga selalu mengikat seni sastranya dengan belenggu ikatan dan kaidah yang memberatkan. 

Romantisisme adalah sebuah gerakan seni, sastra dan intelektual yang berasal dari Eropa Barat pada abad ke-18—masa revolusi industri dan kemudian menemukan momentumnya sebagai gerakan artistik di Prancis dan Inggris di awal abad ke-19. 

Gerakan romantisisme ini dapat dikatakan sebagai sebuah gerakan seni, sastra, serta intelektual yang memang dikembangkan sejak masa Revolusi Industri. Gerakan ini telah ikut ambil alih dalam sebuah revolusi perlawanan atas asas kebangsawanan, sosial, serta politik pada tahun 1789 saat terjadinya Revolusi Prancis. 

Adanya gerakan ini juga menjadi suatu reaksi dari adanya rasionalisasi alam dalam sebuah seni dan sastra. Aliran romantisme ini bisa dibilang sebagai aliran yang cukup lama bertahan, dimulai dari kemunculannya pada tahun 1800, hingga mulai meredupnya di tahun 1850-an. 

Ideologi dan kejadian-kejadian sekitar Revolusi Prancis dan Revolusi Industri dianggap telah mempengaruhi gerakan ini. Gerakan romantisisme mengapresiasi sebuah keberhasilan dari tokoh-tokoh yang dianggap heroik, bukan hanya itu gerakan ini juga mengapresiasi seniman-seniman yang dianggap berbelok dan keliru oleh masyarakat atas perubahan yang dibawanya. 

Dari gerakan ini tercipta sebuah pengesahan terhadap imajinasi yang dibangun oleh individu, yang dijadikan sebagai otoritas berpikir kritis yang mengomentari kebebasan dari pemahaman yang disampaikan dalam gagasan-gagasan aliran klasik pada seni. 

Dalam penyampaian gagasan-gagasannya, gerakan ini cenderung untuk kembali pada apa yang dianggapnya sebagai kenicayaan sejarah dan alam.

Meskipun kerap mengambil sikap berseberangan dengan Neo-klasikisme, gerakan Romantisisme awalnya justru dibentuk oleh barisan seniman yang berlatih di bawah naungan studio milik Jacques Louis David yang merupakan tokoh terkemuka Neo-Klasik, seperti Baron Antoine Jean Gros, Anne Louis Girodet Trioson, dan Jean Auguste Dominique Ingres. 

Aliran romantik tercipta bukan untuk tandingan dan perombakan terhadap aliran klasik beserta kaidah-kaidah dasarnya saja, akan tetapi aliran romantik dimunculkan untuk perombakan total terhadap semua aturan yang mengikat kuat kaidah-kaidah dasar seni dan sastra secara keseluruhan. 

Sehingga dapat dikatakan bahwa sastra romantik diciptakan untuk lebih banyak mengungkapkan curahan jiwa ketimbang sebagai aliran seni sastra itu sendiri, yang lebih berusaha melepaskan diri dari kaidah-kaidah dasar seni sastra yang selalu mengikat.

Sehingga dengan adanya sastra romantik, kejeniusan seseorang akan tumbuh dan berkembang tanpa ikatan dan hambatan. Bagi mereka, syair dan sastra akan berkembang bebas tanpa belenggu yang mengikat. Syair dan sastra akan bebas berbunyi sebebas kicauan burung di atas pohon-pohon rindang dan sebebas gemercik air di lembah sunyi. 

Syair dan sastra dalam aliran romantik tidak harus tunduk kepada aturan apa pun, karena bagi aliran ini keudanya merupakan kebebasan yang tak terbatas. Syair dan sastra hanya akan tunduk pada watak dan pembawaan alami seseorang sehingga kita dapat menyaksikan para penyair yang mengira bahwa sebuah puisi akan nampah indah manakala didendangkan dengan rintihan yang murni dan air mata yang jernih.

Menurut Hemad J. Waluyo, dasar pemikiran aliran romantik ini ialah adanya gambaran terhadap kenyataan hidup dengan penuh keindahan tanpa cela. Jika yang dilukiskan sebuah kebahagiaan, maka kebahagiaan itu perlu sempurna tanpa tara. Sebaliknya jika yang dilukiskan kesedihan, maka pengarang ingin agar air mata terkuras habis. Oleh karena itu, aliran ini sering dikaitkan dengan sifat sentimentil. 

Aliran ini lebih mengutamakan kepekaan sebuah perasaan dibandingkan dengan mengedepankan sebuah rasio. Karya-karya yang bersifat romantik seringkali berusaha membuai perasaan pembaca dan pendengarnya. Romantisisme juga lebih cenderung dalam penggambaran alam, bebungaan, sungai, tetumbuhan, gunung-gungung, serta bulan yang didasarkan pada sebuah kepentingan untuki memperindah kenyataan dari semua itu. 

Romantisisme juga memberikan sebuah pandangan baru yang menganggap seorang seniman merupakan kreator yang memiliki nilai tinggi. Jiwa kreatif dianggap lebih penting dibandingkan pada keterikatan aturan formal atau kaidah-kaidah tradisional. 

Romantisisme juga lebih condong pada budaya yang ada di masyarakat, asal-usul dari budaya tersebut yang didasarkan pada nasionalitis dan etnik di abad pertengahan. Romantisisme memang memberikan sebuah penekanan pada eksotisme, okultisme, satanisme, keterpencilan, serta kemisteriusan yang ada dalam sastra dan seni.

- Advertisement -

Tentang Penulis

Anna Zakiyyah Derajat
Pemerhati Sastra dan Kajian Timur Tengah

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru