Membaca Pemikiran Nidhal Guessoum tentang Kemesraan Islam dan Sains

Dalam bukunya, Memahami Sains Modern, Nidhal Guessoum, seorang Guru Besar Fisika dan Astronomi menjelaskan cara pandangnya mengenai pertemuan sains dan agama, khususnya Islam dengan sangat sederhana, briliant sekaligus berani! Buku ini diawali dengan kekhawatirannya, yang ia beri judul  “Sains di Budaya Muslim Hari Ini.”

Baginya, kenyataan hari ini telah menyadarkan kita bahwa sudut pandang antisains berbasis agama, telah mencuat kembali di dunia Arab-Muslim selama beberapa tahun terakhir. Kemunculan ini ditandai dengan pernyataan-pernyataan  para pemuka agama terkenal, yang menolak pengetahuan sains yang sudah mapan, berupaya agar Al-Qur’an harus diterima secara harfiyah dan sains. Hal ini dikatakan sebagai siasat Barat, untuk menyebarkan dunia materialistis.  Gerakan fundamental seperti ini, sangatlah mengkhawatirkan dan merugikan. 

Kenyataan yang lain ialah beberapa ulama justru kurang paham mengenai apa yang sebenarnya diajaran di sekolah dasar, yang disebabkan oleh kurikulum tertutup dan ketinggalan zaman di sekolah-sekolah Islam, seperti di Pakistan dan Arab Saudi.

Bagi Guessoum, perlu adanya reformasi kurikulum, karena yang harus diajarkan kepada para ilmuwan muslim masa depan bukan hanya sains dasar, seperti astronomi, biologi, geologi. Namun, juga gagasan seperti hermeneutik, yaitu tafsir cerdas atas kitab suci dan analisis kritis.

 Supaya para pemuka agama belajar cara menangani topik, yang mungkin mengandung konflik. Pendekatan literalis terhadap kitab suci dalam Islam dan agama lain, telah menghasilkan pandangan-pandangan dan sikap-sikap berbahaya di banyak aspek masyarakat dan budaya (Nidhal Guessoum, 2020, hlm. 32).

Salah satu teori yang mengalami banyak penolakan, terutama oleh kaum Muslim, yaitu teori evolusi Darwin bahwa hewan dan tumbuhan bisa berubah dalam jangka waktu panjang maupun pendek di berbagai lingkungan, sudah ada sejak zaman dulu, hal itu terjadi secara terus menerus. Teori ini merupakan hasil dari dua efek; mutasi yang mengubah gen dan seleksi alam, serta lingkungan (Nidhal Guessoum, 2020, hlm. 111).

Dalam bukunya, Guessoum menjelaskan tentang teori evolusi manusia Darwin. Di mana kemiripan manusia dan kera tak hanya pada fisiologi dan gaya hidup, namun juga genetika modern yang tak hanya menunjukkan adanya kemiripan. Serta, pada ‘titik kontak’ di genom manusia dan berbagai kera. Kemiripan ini menjadi bukti kuat bahwa manusia memiliki leluhur bersama dengan mereka. 

Menurutnya bukti genetis untuk evolusi secara umum dan evolusi manusia secara khusus sekarang menjadi jalur bukti terkuat. Tak ada orang berpendidikan, yang bisa menyatakan bahwa evolusi bukan fakta sejarah alam. Namun, yang belum dipastian adalah teori yang menjelaskan segala rincian berbagai aspek evolusi. 

Sebagian besar pakar sepakat bahwa teori Neo-Darwinan menjadi kerangka sangat bagus dan bisa menjelaskan sebagian besar bukti, ada minoritas kecil tapi terhormat yang bersikeras bahwa beberapa aspek teori itu perlu diperbaiki. Itu normal, dan teori bisa diperbaiki atau bahkan dirubah kapan saja di semua bidang sains. Jesal Guessoum.  Nidhal Guessoum,2020, hlm. 117

Sayangnya, teori Evolusi ini banyak ditolak oleh muslim, terutama yang terdidik. Sebab teori ini dianggap bertentangan dengan Qur’an yang menyebutkan Adam sebagai manusia yang diturunkan dari Surga Illahi. Bagi mereka merupakan suatu penghinaan bila Adam dianggap lahir dari seekor kera, gorila atau semacamnya.

 Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi Guessoum dalam bukunya ‘ mengapa para mahasiswa itu menyataan bahwa evolusi bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an. Ada dua alasan menurutnya, yaitu, pertama, sikap itu berasal dari kebingungan metodologis bahwa Al-Qur’an seharusnya tak menjadi rujukan untuk menguji teori atau hasil sains. Al-Qur’an adalah buku panduan rohani, moral, dan sosial. Al-Qur’an mengajak manusia meneliti dunia dan memasukkan pengetahuan yang didapat dalam pandangan dunia teistik. Namun, Al-Qur’an tak menyatakan diri menyajikan penjabaran, apalagi penjelasan cara kerja dunia.

Yuk! Baca Juga  Keinginan Hidup Bersama Tapi Enggan Memiliki Keturunan

Kedua, pernyataan bahwa evolusi ‘bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an,’ berasal dari pemahaman harfiyah atas beberapa kisah terutama kisah penciptaan Adam, dan menerima tafsir kitab suci jaman dulu sebagai arti mutlak ayat-ayat yang mengisahkannya. Sebagaimana kita tak menolak model tata surya berpusat pada matahari, hanya karena Al-Qur’an menyatakan “Matahari terbit” dan “Matahari terbenam”, kita mesti tak menolak evolusi hanya karena kitab suci mengatakan “Tuhan menciptakan Adam dari tanah liat,” (Nidhal Guessoum, 2020, hlm. 143).

Lebih jauh lagi Guessoum berpendapat bahwa Al-Qur’an dan sains itu saling melengkapi, tapi tak bisa saling melanggar batas, dan jelas tak bisa meniadakan. Baginya, adanya keterlibatan Tuhan atau roh di berbagai gejala, seperti kilat, gempa, kejang-kejang, cenderung menghentikan pencarian penjelasan mengenai apa yang terjadi. Tetap saja, bersikeras mencari penyebab alami untuk segala gejala, yang tidak bertentangan dengan memandang gejala alami sebagai tanda kebesaran Tuhan.

Yuk! Baca Juga  Keinginan Hidup Bersama Tapi Enggan Memiliki Keturunan

Menemukan penyebab alami adalah tugas sains, sementara memandang kekuasaan ilahi, makna, dan tujuan adalah tugas agama, tambahnya, (Nidhal Guessoum, 2020, hlm. 151).

‘Sains tidak hanya cocok dengan spiritualitas; sains adalah sumber penting spiritualitas. Ketika kita menyadari tempat kita dibentang alam seluas bertahun-tahun cahaya dan waktu-waktu yang telah berlalu, ketika kita memahami kerumitan, keindahan dan kehalusan kehidupan, lantas perasaan yang membumbung itu, perasaan yang jelas merupakan gabungan antara sukacita dan kerendahan hati, jelas bersifat spiritual.

Gagasan bahwa sains dan spiritualitas tidak saling bertemu sungguh meremehkan keduanya’

-Carl Sagan, The Demon-Haunted World

 

Referensi;

Nidhal Guessoum. 2020. Memahami Sains Modern; Bimbingan Untuk Kaum Muda Muslim. PT Qaf Media Kreativa.

 

- Advertisement -

Tentang Penulis

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru