Memaknai Puisi Walau dan Jembatan Karya Sutardji Calzoum Bachri

Belajar dari sejarah, kita mendapatkan bukti bahwa manusia, yang arogansinya melampaui batas, akhirnya binasa. Misalnya Firaun yang menganggap dan mengangkat dirinya sebagai Tuhan bagi orang-orang Mesir ketika itu.

Demi kekuasaan, kenikmatan, kejayaan, dan keagungan, ia membantai siapa pun yang menentangnya. Dia ingin melampaui kekuasaan Allah Swt. Hingga akhirnya ia binasa karena ditenggelamkan oleh Allah Swt di Laut Merah.

Berangkat dari hal tersebut, bahwa kehebatan manusia itu memiliki batas. Para genius memiliki keterbatasan, sehingga mereka memiliki keunggulan di bidang yang mereka kuasai. Para penemu pun demikian. Juga para pelopor dan para perintis.

Mereka tak akan mampu menandingi ilmu Allah Swt. Firman Allah Swt dalam surah al-Thalaq ayat 12 dengan gamblang menjelaskan:

“Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah (ilmu-Nya) benar-benar meliputi segala sesuatu.”

Filosofi ojo dumeh atau jangan mentang-mentang, juga mengingatkan agar kita tidak arogan terhadap orang lain. Jangan mentang-mentang sedang berkuasa, jangan mentang-mentang kaya raya, jangan mentang-mentang memiliki segalanya, adalah filosofi orang Jawa yang layak diambil makna dan hikmahnya bagi kehidupan untuk meninggikan harkat, derajat, dan martabat kemanusiaan.

Sementara itu, di sisi yang lain, masih banyak orang yang mengalami kekurangan dan kemiskinan. Mereka adalah kaum marginal yang hanya menjadi penonton. Mereka tak mampu berbuat apa-apa dan tak berkutik karena keterbatasan yang dimiliki.

Padahal, dalam surah al-Ma’un ayat 1 hingga 7, Allah mengingatkan, “Tahukah kamu orang yang mendustakan hari pembalasan. Itulah orang yang menolak hak anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan terhadap orang-orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) mereka yang melalaikan terhadap salatnya. Yaitu orang yang menampak-nampakkan (riya) dan enggan (untuk memberi bantuan).”

***

Sekarang marilah kita nikmati puisi “Walau” karya Sutardji Calzoum Bachri.

WALAU

Walau penyair besar

takkan sampai sebatas allah

dulu pernah kuminta tuhan

dalam diri

sekarang tak

kalau mati

mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat

tujuh puncak membilang-bilang

nyeri hari mengucap-ucap

di butir pasir kutulis rindu rindu

walau huruf habislah sudah

alif bataku belum sebatas allah

Tampaknya penyair Sutardji Calzoum Bachri menyadari keterbatasannya. Meski ia disebut-sebut sebagai presiden penyair, huruf-huruf dan kata-kata yang telah ia jinakkan kemudian ia gubah menjadi puisi, tak akan mampu menandingi kemahabesaran Allah Swt.

Walau penyair besar/ takkan sampai sebatas allah/ …. walau huruf habislah sudah/ alif bataku belum sebatas allah/ Meskipun sebelumnya ia … dulu pernah kuminta tuhan/ dalam diri/. Sebab kesadaran pula maka ia …sekarang tak/.

Sadar akan keterbatasannya, maka … di butir pasir kutulis rindu rindu/. Ia rindu kepada Allah Yang Maha Kuasa. Lagi pula, kesadaran bahwa … kalau mati/ mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat/, dan ketika … tujuh puncak membilang-bilang/, yang memunculkan suasana ketakjuban, ia menyadari juga mengalami … nyeri hari mengucap-ucap/, yang memunculkan suasana kesakitan.

Manusia memang serba terbatas. Ia bukan Tuhan. Penyair besar sekelas Sutardji Calzoum Bachri pun lebih dulu menyadari hal itu. Dalam Surah Luqman ayat 27 Allah berfirman, “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Dalam Surah al-Kahfi ayat 109, Allah pun berfirman, “Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”

***

Puisi “Jembatan” karya Sutardji Calzoum Bachri tampak sangat memihak kepada kaum yang terpinggirkan. Orang-orang pinggiran tak mampu menikmati hasil pembangunan. Sebab, pembangunan hanya berdampak nikmat bagi si kaya.

Sementara itu, si miskin hanya menjadi penonton. Padahal, mereka saudara kita pemilik Republik ini. Jurang pemisah antara si kaya dan si miskin makin melebar. Sangat menyedihkan, memang! Mari kita baca puisi tersebut.

JEMBATAN

Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung airmata

bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi

dalam teduh pekewuh dalam isyarat dan kisah tanpa makna.

Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta. Wajah orang

jalanan yang berdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota.

Wajah orang tergusur. Wajah yang ditilang malang. Wajah legam

para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan.

Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase

indah di berbagai plaza. Wajah yang diam-diam menjerit

mengucap

tanah air kita satu

bangsa kita satu

bahasa kita satu

bendera kita satu!

Tapi wahai saudara satu bendera kenapa sementara jalan-jalan

mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan

tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah

yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang

di antara kita?

Di lembah-lembah kusam pada puncak tilang kersang dan otot

linu mengerang mereka pancangkan koyak-moyak bendera hati

dipijak ketidakpedulian pada saudara. Gerimis tak ammpu

mengucapkan kibarnya.

Lalu tanpa tangis mereka menyanyi padamu negeri airmata kami.

Saya menyukai puisi ini. Sebab, ketika sengketa sedang melanda kalangan atas yang sedang berkuasa, puisi ini seakan menyampaikan pesan yang jelas. Bahwa kalangan bawah yang terpinggirkan itu jangan ditinggalkan. Harta dan tahta memang senantiasa menjadi ajang perebutan antar-mereka yang bersengketa. Akan tetapi, rakyat kecil juga yang menjadi tumbalnya.Wallahualam.

- Advertisement -

Tentang Penulis

Sukur Budiharjo
Penulis dan Pensiunan Guru ASN di DKI Jakarta. Alumnus Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Jakarta. Menulis artikel, cerpen, dan puisi di media cetak, media daring, dan media sosial. Kontributor sejumlah antologi puisi. Menulis buku kumpulan puisi Mik Kita Mira Zaini dan Lisa yang Menunggu Lelaki Datang (2018), Demi Waktu (2019), Beda Pahlawan dan Koruptor (2019), buku kumpulan esai Enak Zamanku, To! (2019), dan buku nonfiksi Strategi Menulis Artikel Ilmiah Populer di Bidang Pendidikan Sebagai Pengembangan Profesi Guru (2018)

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru