Melihat Sejarah dan Perkembangan Ilmu Badi’ Melalui Karya Ibnu Mu’taz

Ilmu badi adalah sub cabang ilmu dari ilmu balaghah. Di dalam ilmu balaghah kita mengenal ilmu ma’ani, ilmu bayan, dan ilmu badi’. Jika diibaratkan dengan membangun rumah, ilmu ma’ani digunakan sebagai bahan baku yang bagus dan berkualitas untuk membangun rumah. Sedangkan, ilmu bayan sebagai bentuk bangunannya yang dijadikan seperti tembok, atap, pintu dan lain lain. Dan ilmu badi’ sebagai finishing, yaitu berupa hiasan rumah untuk memperindah penampilannya.

Ilmu badi menurut Abu Jakfar Al Andalusi bagaikan garam di dalam suatu masakan dan tahi lalat di wajah seseorang. Apabila pas, maka akan memberikan rasa yang pas atau enak dan mempercantik wajah seseorang. Akan tetapi, apabila berlebihan dan tidak sesuai kapasitas, alhasil akan menjadikan masakan tidak enak dan wajah tidak enak dipandang (Abdurrahman, 2011).

Di dalam ilmu badi yang membahas tentang cara-cara dalam memperindah suatu kalam ini, terbagi lagi menjadi dua pembahasan. Yang pertama adalah muhassinat lafdhiyah yang membahas tentang cara-cara memperindah bentuk lafaz-lafaz dalam suatu kalam dan muhassinat maknawiyah yang membahas tentang cara-cara memperindah makna di dalam suatu kalam.

Sebenarnya, dari zaman dahulu ilmu badi ini sudah tersebar di kalangan orang-orang Arab terutama para penyair, salah satunya adalah Muslim bin Walid Al Anshori (wafat 208 H) yang menggunakan ilmu badi di dalam syairnya untuk memuji Yazid bin Mazid. Kemudian, ada Abu Utsman Amr bin Bahru Al Jahidl (wafat 255 H) yang telah membahas ilmu badi di dalam kitabnya Al Bayan Wa al-Tabyin. Di dalam kitab ini mengandung faidah-faidah, pidato-pidato yang indah, kabar-kabar menakjubkan, nama-nama tokoh pidato dan balaghah, serta kadar kemampuan kebalaghohannya dan pidatonya.

Kalimat Badi ini menurut Al Jahidl mengacu pada dua hal, yaitu memperindah lafaz dan memperindah makna, walaupun pada saat itu belum dijelaskan secara terperinci mengenai ilmu badi sendiri, sayangnya Al Jahidl belum sampai berusaha memberikan pengertian-pengertian atau mustholah-mustholah tentang ilmu badi dan pembagiannya, karena perhatian Al Jahidl pada saat itu masih sebatas contoh dan penerapannya belum mencapai kaidah-kaidahnya (al-Atiq, Tt).

Pencetus pertama ilmu badi’ ini adalah Abdullah bin Mu’taz Al Abbasi yang wafat pada tahun 274 Hijriyah. Kemudian ilmu badi’ dikembangkan lagi oleh Qudamah bin Jakfar Al Katib. Setelah itu, banyak tokoh-tokoh yang ikut mengembangkan disiplin ilmu ini seperti halnya Abu Hilal Al Askari, Sofiyuddin Al Hilli, Ibnu Hijjah Al Hamawi dan lain-lainnya (al-Hasyimi, 1960).

Nama asli Abdullah bin Mu’taz adalah Abu Abbas Abdullah bin Mu’taz bin Mutawakkil bin Mu’tashim, bin Harun Ar Rasyid yang lahir pada tahun 243 Hijriyah. Dia adalah seorang khalifah Abbasiyah pada masanya. Selain itu, dia juga adalah seorang penyair yang jago membuat syair lengkap dengan keindahan maknanya, kesederhanaan lafaznya, yang siapa saja dapat terpikat oleh keindahan puisinya.
Karya Ibnu Mu’taz yang berjudul Kitab al-Badi’, adalah karya pertama yang membahas tentang masalah-masalah balaghoh dan badi’ secara terperinci, sistematis, dan terstruktur dengan rapi yang sebelumnya sebenarnya sudah ada kitab-kitab yang membahas masalah-masalah ini namun masih terpecah belah dan belum selengkap karya Ibnu Mu’taz.

Akan tetapi walaupun Ibnu Mu’taz bisa dikatakan sebagai pencetus pertama ilmu badi’. Di dalam muqadimah kitabnya, dia tetap tawadhu dan mengatakan bahwa sebenarnya sebelum menyusun kitab tentang ilmu badi’ ini, telah banyak pembahasan ilmu badi seperti yang terdapat dalam hadis Nabi Saw dan ayat Al-Qur’an, juga para sahabat dan masyarakat Arab. Bukan hanya itu, dia juga menyebutkan tokoh-tokoh terdahulu yang telah berkecimpung di dalam ilmu badi ini, seperti Basyar, Muslim, Abu Nuwas, Abu Tamam dan lain-lainnya.

Kesimpulannya adalah Ibnu Mu’taz melalui karyanya yang berjudul al-Badi, pertama kali berhasil memisahkan pembahasan ilmu badi dari ilmu balaghah, kemudian memberikan batasan-batasan pembahasannya secara terperinci sebagaimana batasan-batasan pembahasan yang sudah ada di dalam ilmu maani dan ilmu bayan. Di dalam karyanya ini, dia juga menjelaskan pengertian-pengertian dan mustholah-mustholah tentang macam-macam badi pada zamannya, serta memberikan beberapa kritikan terhadap beberapa hal yang menurutnya kurang lengkap.

- Advertisement -

Tentang Penulis

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru