Kondisi Masyarakat Arab sebelum Turunnya Al-Qur’an

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, tentu memiliki latar belakang khusus. Pemilihan lokasi Jazirah Arab sebagai lokus diturunkannya Al-Qur’an, dan pemilihan Muhammad sebagai Nabi merupakan sesuatu peristiwa yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Hal semacam ini, tidak semestinya selalu didekati dengan pandangan-pandangan metafisis bahwa hal itu karena kehendak Allah Swt. Dalam kajian Al-Qur’an, setidaknya dapat dipetakan menjadi dua kategori. Pertama, kajian-kajian Al-Qur’an yang fokus kepada faktor-faktor eksternal disekitar pembentukan Al-Qur’an. Ini meliputi sejumlah kajian seputar lingkungan material Jazirah Arab tempat Al-Qur’an diturunkan, seperti sifat-sifat tanahnya, tumbuh-tumbuhan, iklim, dan hal-hal yang lain. Juga seputar lingkunagn imateri, semisal, sistem keluarga, kabilah, kepercayaan dan sebagainya.

Kedua, kajian yang fokus kepada struktur Al-Qur’an itu sendiri semisal, struktur kalimat dan pengaruhnya terhadap jiwa sosial manusia sepananjang sejarahnya, dan lain sebagainya (Amin al-Khuli; 2003, 38-43).

Pemaduan secara integral kedua unsur ini setidak-tidaknya dapat melihat secara antropolgis fungsi-fungsi Al-Qur’an dan budaya setempat dalam membentuk kebudayaan pasca Al-Qur’an.

Oleh karena itu, mula-mula yang mesti ditelisik adalah tentang situasi dan iklim seperti apa Al-Qur’an diturunkan? Bagaimana sikap Al-Qur’an dalam merespon situasi-situasi tersebut hingga kemudian dijadikan rekam historis dan abadi sepanjang sejarah? Dengan demikian, menghadirkan potret umum keadaan historis kebudayaan pra Al-Qur’an dan watak masyarakatnya tentu memiliki signifikansi tersendiri. Situasi ini meliputi iklim geografis, politik, ekonomi, budaya, keagamaan, dan sistem pengetahuan.

Iklim Geografis. Secara geografis, jazirah Arab merupakan wilayah yang sangat luas. Dari arah Barat ia dihimpit oleh laut merah, sedangkan dari Timur, dihimpit oleh laut Oman dan telukPersia, sementara dari selatan dibatasi oleh selat Hindia. Adapun dari arah Timur dibatasi oleh laut tengah (Gustaf Lebon; 2012, 39).

Apabila dilihat dari tipologi demografi, Jazirah Arab dipetakan menjadi dua wilayah, yaitu daerah yang berpenduduk Badui dan daerah berpenduduk perkotaan. Daerah badui ini lebih banyak terdapat di sekitar utara Jazirah Arab, yang membentang antara Syam hingga perbatasan Najad dan Hijaz. Sementara, daerah perkotaan menempati di wilayah selatan Jazira Arab termasuk di antaranya Hijaz, Najad, dan Yaman (Jurji Zaidan; 2006, 37).

Jazirah Arab dapat dibilang banyak didominasi dengan iklim sahara padang pasir ketimbang iklim subur. Tingkat curah hujan sangat rendah. Apabila saat hujan tiba, curahan air mengalir dan tertampug di danau Rummah (al-Wâdi al-Rummah). Danau ini merupakan salah satu danau terbesar di jJazirab Arab kala itu.

Kondisi geografis semacam ini, turut menentukan pola interaksi kehidupan masyarakat Arab dengan ragam kebutuhannya sebagai makluk sosial. Baik ekonomi, sosial, budaya, politik, dan bahkan turut serta menentukan corak, watak, dan pola pikir masyarakatnya. Hal ini, tak jauh berbeda dengan pandangan teori sosialogi bahwa cara bagaimana masyarakat hidup akan menentukan cara bagaimana mereka berpikir.

Ilustrasi watak semacam ini telah digambarkan oleh Al-Qur’an dalam pelbagai ayat yang kesemuanya mengilustrasikan kerasnya watak masyarakat Arab untuk menerima ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Perekonomian. Masyarakat Arab lebih banyak bergerak dalam bidang perdagangan, pengembala, dan sebagian bercocok tanam. Di Makkah, akses ekonomi masyarakat lebih banyak digerakkan dalam bidang perdagangan dan pengembalaan (Habib al-Janahani; 2005,49).

Bagi masyarakat Makkah, perdagangan dapat dibilang sebagai jantung kehidupan ekonomi. Al-Qur’an sendiri melukiskan dengan jelas proses-proses perdagangan yang tepat untuk dijalankan masyarakat Makkah, terlebih di saat pergantian musim tiba. Saat musim panas mereka berbondong-bondong pergi berdagang ke arah utara (Syam), sementara ketika musim dingin tiba mereka melakukan perdagangan ke arah selatan (Yaman). Hal ini direkam dalam surat Quraisy ayat 2.

Di Yastrib, akses ekonomi masyarakat lebih banyak ditopang oleh faktor pertanian ketimbang perdagangan. Hal ini disebabkan, tingkat kesuburan tanah di Madinah lebih baik dari Makkah. Kurma, anggur, delima, adalah sekian di antara buah hasil pertanian masyarakat Madinah (Habib al-Janahani; 2005,49).

Terkait dengan hal ini, Al-Qur’an di banyak tempat dan ayat sering menggunakan sejumlah nama-nama buah tersebut sebagai ilustrasi doktrin ajarannya baik untuk mengekspresikan pahala dan balasan atas perintahNya.

Situasi Politik. Jazirah Arab khususnya Hijaz merupakan wilayah terpencil dari negara-negara besar yang ada di sekelilingnya: Persia dan Bizantium. Kedua negara ini sepanjang sejarahnya hendak menguasai kota Hijaz karena potensinya dalam arus lalu lintas perekonomian dan perdagangan (Montagari Watt; 64).

Kota Makkah ketika itu merupakan pusat perdagangan internasional. Oleh karena letak strategis Makkah, Allah Swt menjanjikan kepada kaum muslim akan keberhasilannya menaklukan negara ini dengan gemilang. Janji Allah Swt ini terekam di dalam Al-Qur’an surat al-Rum ayat 2-4 dan secara historis dibuktikan oleh sultan Hamid al-Fatih pada abad 15 M.

Sementara dalam lingkungan internal Hijaz, kehidupan politik diperankan oleh kabilah-kabilah setempat. Di Makkah terdapat kabilah Quraisy yang dianggap kabilah terbesar di antara kabilah-kabilah lain. Kabilah Quraisy ini didirikan oleh Qussha bin Kallab, yang merupakan kakek moyang nabi Muhammad Saw. Kabilah ini memainkan peran begitu besar dalam arus keagamaan, politik, dan ekonomi di Makkah, terlebih kekuasaannya dalam mengelola Ka’bah.

Dalam kabilah, sistem kepemimpinan diserahkan secara sentralistik kepada pimpinan tunggal kabilah. Seorang pemimpin disyaratkan memiliki kualifikasi lebih di antara petinggi-petinggi lain dalam kabilah. Kualifikasi itu antara lain pemberani, memiliki kemuliaan, visioner, kaya, dan banyak pendukung (Muhamad Abdul Hamid al-Rifa’i; 1998, 160). Meski begitu, tak jarang sistem kepemimpinan ini diwarisi secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi lainnya.

Beberapa hal di atas merupakan sebuah gambaran antropologis mengapa Al-Qur’an diturunkan di Jazirah Arab kepada Muhammad Saw, sehingga membentuk struktur masyarakat yang sedemikian rupa dan membentuk fondasi agama Islam yang kuat.

- Advertisement -

Tentang Penulis

Muh. Nanda al-Fateeh
Orang yang suka halu, daripada nganggur mending nulis aja. Juru ketik di Alkalam.ID

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru