Jaka Tingkir Pendiri Kerajaan Islam Pajang Abad XV

Pasca meninggalnya Sultan Trenggana tahun 1546, Kerajaan Demak dipimpin oleh Sunan Prawoto. Tahtanya tak bertahan lama karena ia dibunuh sepupunya yang bernama Arya Penangsang yang kala itu menjabat sebagai bupati Jipang tahun 1549. Pembunuhan ini lantaran Arya Penangsang ingin menjadi pewaris tahta Kasultanan Demak. Saat itu Pajang merupakan sebuah Kadipaten yang dipimpin oleh Jaka Tingkir. 

Jaka Tingkir atau Mas Karebet mendapat dukungan Ratu Kalinyamat bupati Jepara dan dukungan putri Sultan Trenggana menyerang Arya Penangsang. Bersama Ki Ageng Panjawi dan Ki Ageng Pemanahan, Jaka Tingkir berhasil mengalahkan Arya Penangsang di sekitar bengawan Solo. Kemudian Jaka Tingkir menjadi pewaris tahta Kasultanan Demak dan memindah pusat pemerintahanya ke Pajang. Konon berkat jasa-jasanya, Ki Ageng Panjawi dihadiahi tanah Pati dan Ki Ageng Pemanahan diberi tanah hutan Mentaok yang kelak menjadi kerajaan besar bernama Mataram. 

Yuk! Baca Juga  Selayang Pandang Pola Interaksi Islam Awal dengan Budaya Nusantara

Berbicara mengenai Jaka Tingkir kita akan terngiang film lawas yang berjudul Jaka Tingkir yang dulu biasa disiarkan di salah satu stasiun televisi. Dalam film tersebut Jaka Tingkir digambarkan sebagai seorang kesatria yang mengembara untuk mencari ilmu. Perjalananya ditemani oleh seorang bertubuh gendut yang doyan sekali makan dan teramat kocak berjuluk Basyir. Berdasarkan berbagai literatur memang benar Jaka Tingkir adalah seorang kesatria yang doyan berkelana mencari ilmu.

Jaka Tingkir pernah berguru kepada Ki Ageng Sela yang terkenal dengan kesaktianya dapat menangkap petir. Jaka Tingkir juga merupakan murid dari Sunan Kalijaga. Sempat pula berguru kepada Sunan Tembayat di daerah Tembayat tak jauh dari Pajang. Konon berkat ketekunanya dalam menimba ilmu, Jaka Tingkir menjadi seorang yang sakti. 

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat ia pernah mengalahkan puluhan buaya ketika Jaka Tingkir beserta rombongan menyusuri Sungai Kedung Srengege dan buaya-buaya tersebut membantu mendorong rakit yang ia tumpangi sampai ke Demak. Ia juga pernah mengalahkan seekor kerbau yang menggila di keraton Demak dan akibat prestasinya tersebut ia diangkat oleh Sultan Trenggana menjadi Lurah Prajurit Wiratamtama. 

Kisah tersebut tertuang dalam sebuah tembang Megatruh berikut: 

“Sigra milir, sang gethek si nangga bajul, kawan dasa kang jagani, ing ngarsa miwah ing pungkur”. 

Nama kecil Jaka Tingkir adalah Mas Karebet. Ayahnya bernama Raden Kebo Kenanga yang merupakan raja dari kerajaan Pengging (sekarang daerah Boyolali) bergelar Ki Ageng Pengging. Setelah Ayah dan Ibunya wafat, ia diasuh oleh Nyai Ageng Tingkir di daerah bernama Tingkir yang merupakan kerabat orang tuanya. Kemudian ia dikenal sebagai Jaka Tingkir. Saat Demak sipimpin oleh Sultan Trenggana Jaka tingkir dinikahkan dengan putri sang Sultan dan dijadikan bupati Pajang bergelar Pangeran Hadiwijaya. 

Setelah berhasil mengalahkan Arya Penangsang, ia pun mendirikan Kerajaan Pajang. Sejak sa at itu kerajaan Islam Jawa pesisir berpindah ke pedalaman dan ia kemudian dikenal sebagai Sultan Hadiwijaya. Menurut Muhibbudin (2014) Sunan Prapen berperan sentral terhadap tegaknya kekuasan Pajang. 

Pada awal berdirinya kerajaan Pajang, wilayah Pajang hanya mencakup daerah Jawa Tengah saja. Hal ini karena Kerajaan-kerajaan di Jawa Timur melepaskan diri dari kekuasaan Demak pasca kematian Sultan Trenggana. Kemudian pada tahun 1568 Sultan Hadiwijaya beserta para Adipati di Jawa Timur dikumpulkan oleh Sunan Prapen di Giri Kedaton. Kemudian atas bantuan Sunan Prepen para Adipati tersebut mengakui kedaulatan Pajang atas negeri-negeri di Jawa Timur. 

Kerajaan Pajang terletak di kelurahan Pajang, Kota Surakarta, provinsi Jawa Tengah. Kerajaan ini berdiri pada tahun 1549. Pada era kepemimpinan Sultan Hadiwijaya, Pajang berkonflik dengan kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya. 

Yuk! Baca Juga  Turki, Sekularisme dan Benturan Islamisme dan Politik Identitas

Dalam History of Java diceritakan saat peperangan tersebut berlangsung gunung Merbabu meletus dengan letusan yang dahsyat. Mengeluarkan debu dan batu-batu besar, sungai-sungai pun mengalir deras membanjiri daerah yang lebih rendah dan abu vulkanik berterbangan. Hal ini membuat pasukan pajang kocar-kacir, sehingga Sultan menyuruh pasukanya untuk mundur dan kembali ke Pajang. Di tengah perjalanan ia singgah sekaligus ziarah di Tembayat. Sesampainya di Pajang sang Sultan sakit dan Wafat akibat diracun oleh seseorang (Raffles: 2008). 

Setelah Sultan Hadiwijaya wafat kerajaan Pajang menjadi bagian dari Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Panembahan Senapati.  Sultan Hadiwijaya memerintah kerajaan Pajang tahun 1549 sampai 1582. Ia dimakamkan di Desa Butuh, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Hingga kini banyak diziarahi oleh masyarakat dari berbagai daerah. Sisa-sisa kerajaan Pajang dapat dijumpai di Surakarta. Bekas kerajaan tersebut kini telah menjadi areal pemakaman.

 

- Advertisement -

Tentang Penulis

Wahyu Broto Sekti
Aktivis dan Pegiat LIterasi Alumni UIN Raden Mas Said Surakarta

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru