Hijab Sebagai Simbol Kesalehan Populer 

Naskah yang ingin saya sajikan kali ini berupa narasi yang kerap diperdebatkan oleh beberapa kalangan keagamaan. Naskah dengan tema ‘Hijab Sebagai Simbol Kesalehan Populer’ sering melahirkan pertanyaan makna hijab yang sesungguhnya bagi perempuan Muslimah? 

Sejak dua dekade terakhir, telah terjadi sebuah revolusi hijab di Indonesia. Sebelumnya, pemerintah Indonesia melarang penggunaan hijab di ruang lingkup sekolah.  Pada 1990, pemerintah mengeluarkan fatwa diperbolehkannya penggunaan hijab di sekolah. Hal ini tentu memicu lahirnya kebebasan berhijab di tengah masyarakat. 

Fatwa ini dipelopori oleh gagasan Presiden Soerharto untuk menghapus larangan berhijb bagi siswi di sekolah-sekolah, setelah keluarnya larangan penggunaan jilbab sejak 1987. Selain itu, masa pemerintahan Orde Baru juga mendukung lahirnya wacana keislaman di Indonesia. Pada waktu yang sama, Presiden Soeharto mengapresiasi pembentukan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan peresmian bank Islam pertama, yaitu bank Muammalah (Watson, 2005).

Dengan adanya revolusi hijab ini, banyak hal yang memicu lahirnya industri busana Muslim. Penggerak awal industri busana Muslim ini dopelopori oleh  Syahira, Syahida, dan beberapa merek busana Muslim lainnya yang turut mewarnai segmen kelas menengah Muslim dan kaum muda lainnya di Indonesia (Yuswohady, 2017).

Dampak yang terjadi dari revolusi hijab ini juga merambah pada kalangan selebriti Indonesia. Beberapa dari selebriti Indonesia mulai ramai berhijrah dan dengan mantap menggunakan hijab. Mereka pun semakin percaya diri menggunakan hijab, serta dengan berani keluar jari profesinya sebagai selebriti dan memilih menjadi entrepreneur di bidang fesyen dan busala Muslim lainnya.

 Di antara para selebriti ini adalah Dian Pelangi, Zazkia dan Sheeren Sungkar, Fenita Arie, Dewi Sandra, serta Laudia Cintya Bella, dan sederet sebriti lainnya yang hijrah sekaligus berbisnis di dunia busana Muslim.

Dari fenomena yang terjadi mengenai revolusi hijab, saya berasumsi bahwa perempuan yang menggunakan hijab tidak lagi diminoritaskan. Akan tetapi, sekarang hijab menjadi simbol kesalehan populer. Mengapa demikian? Karena hijab tidak sekadar bentuk ataupun simbol dari kepatuhan terhadap agama, melainkan bentuk dari lifestyle seseorang. Dan saya menyebutnya hijab sebagai simbol kesalehan populer.

Sementara, Najib Burhani mengklaim hijab sebagai simbol perempuan merdeka. Terdapat beberapa alasan Najib Burni mengatakan demikian, yaitu hijab tidak lagi sebagai bentuk ketaatan. Bahkan, hijab tidak lagi menjadi penanda tingkat keimanan seorang Muslimah, melainkan hijab sebagai simbol perempuan merdeka, yaitu merdeka dari doktrin yang selama ini beredar. Doktrin tersebut bahwa dengan hijab, perempuau terlihat kuno, sulit mendapatkan pekerjaan, bahkan pendidikan.

Saat ini, perempuan yang religius dengan berhijab tidak lagi dinilai sebagai penghalang bagi pendidikan dan karir seorang Muslimah, seperti yang ditakutkan dulu (Kalis, 2019). Namun, keberadaan jihab telah dipandang sebagai perempuan terpelajar, bahkan dianggap sebagai perempuan Muslimah dengan kesuksesan berkarir secara professinal. 

Argumen yang ingin disampaikan oleh Najib Burhani adalah bahwa hijab tidak hanya sekedar fesyen yang tengah digrandungi, namun hijab merupakan tanda independensi seorang perempuan Muslim. Beberapa hari yang lalu, Negara Filipina memperingati tanggal 1 Februari sebagai Nasional Hijab Day. Pemerintah Filipina pun memandang hijab sebagai hak bagi perempuan untuk menjaga kesopanan dan martabatnya sebagai perempuan, bukan sebagai kewajiban. 

Hari Hijab Nasional ini diperingati setiap tahunnya oleh Negara Filipina. Nilai yang ingin ditanamkan oleh Negara Filipina ini bahwa dengan menggunakan hijab diharapkan mampu mendorong perempuan Muslim dan non Muslim untuk merasakan manfaat menggunakannya, dengan kata lain hijab mampu melindungi martabat perempuan.

Hal ini mendapat dukungan dan apresiasi dari berbagai kalangan Muslim di dunia. Bahkan, Negara Indonesia turut mengapresiasinya. Hal ini terlihat dari postingan dari beberapa kalangan selebriti @hijrahfest, Fenita Arie yang merupakan istri dari selebriti Arie Untung juga turut merayakannya dengan menggagas @womenfestive.id. Akun ini berisikan tentang acara-acara keagaman yang juga disponsori oleh mereka para selebriti dari @hijrahfest.

Mayoritas perempuan Muslim di Indonesia kini telah marak menggunakan hijab. Hijab sebagai simbol kesalehan populer dikemas menjadi lebih fashionable, modern dan stylist. Hal ini dapat dilihat dari merek dan perpaduan warna hijab yang laris di pasar busana Muslimah. Dengan adanya inovasi hijab ini, mampu mendorong lahirnya kosmetik halal bagi kalangan perempuan. Maka, tak heran jika perempuan Muslim ingin tetap cool dengan fesyen cantik Islami secara kekinian.

Sejatinya, hijab akan selalu disorot dan tidak akan pernah lepas dari fenomena keagamaan di Indonesia. Bahkan, baru-baru ini wakil Presiden Indonesia K.H. Ma’ruf Amin berbicara mengenai hijab di salah satu acara talkshow di televisi. Ma’ruf Amin mendiskusikan isu siswi non Muslim yang diwajibkan menggunakan hijab. 

Akan tetapi, pemerintah Indonesia belum mengambil kebijakan terhadap isu tersebut. Karena hal ini dinilai bersifat memaksa bagi kalangan agama selain Islam yang dilihat dari aspek kenegaraan dan keagamaan.

- Advertisement -

Tentang Penulis

Siti Mupida
Penjejak rahmat Tuhan, dan Musafir by the Pen

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru