Genosida Armenia Oleh Ottoman Diakui Biden, Tuai Amarah Turki

Genosida Armenia merupakan pembunuhan massal yang dilakukan oleh Kekaisaran Ottoman terhadap jutaan orang Armenia. Tragedi pembunuhan massal tersebut dimulai sejak tahun 1894 dan bertambah parah pada tahun 1915. Setiap bulan April, ingatan bangsa Armenia akan selalu dikembalikan pada peristiwa seabad lalu. Saat itu, jutaan orang Armenia yang tinggal di Anatolia Timur atau Armenia Barat dipaksa untuk pergi ke Gurun Suriah dan mengalami pembantaian, saat di bawah Kekaisaran Utsmani.

Saat itu, tepat 24 April tahun 1915, diperkirakan sekitar 600.000 sampai dengan 1.000.000 orang Armenia mati dibantai, diculik, disiksa, diperkosa, bahkan dijarah harta bendanya. Mayoritas sejarawan menyebut peristiwa tersebut sebagai genosida. Namun, pemerintah Turki hingga saat ini masih tidak mau mengakui jumlah korban ataupun ruang lingkup yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Akar Tragedi Genosida Armenia

Armenia merupakan bangsa yang memang telah mendiami wilayah Kaukasus di Eurasia sejak 3000 tahun lalu. Pada awal abad ke-4 M, Armenia sendiri merupakan bangsa pertama di dunia yang memang menjadikan agama Kristen sebagai agama resminya. Namun, setelah itu, wilayah Armenia menjadi wilayah yang dikuasai oleh beberapa kekaisaran. Hingga, pada abad ke-15 M, Armenia menjadi wilayah di bawah kekuasaan Kekaisaran Utsmani.

Pada saat itu, para penguasa Kekaisaran Utsmani memberikan izin kepada minoritas agama, seperti orang Armenia untuk dapat mempertahankan otonominya, tetapi penguasa-penguasa itu juga telah menetapkan berbagai kebijakan yang dinilai tidak adil untuk orang Armenia, hingga orang-orang Armenia disebut sebagai orang kafir.

Di antara kebijakannya yang tumpang tindih, yaitu adanya pembayaran pajak bagi orang Kristen yang lebih besar daripada Muslim. Selain itu, hak politik dan hukum orang-orang Kristen pun tidak didapatkan sepenuhnya, serta tidak sebesar yang didapatkan oleh pemeluk agama Islam. Tentu, terlepas dari adanya kendala ini, orang-orang Armenia pun tetap bertahan dan terus berkembang di bawah kekuasaan Utsmani. 

Perkembangan yang cukup signifikan inilah yang kemudian menimbulkan kebencian dan kecurigaan Kekaisaran Utsmani terhadap orang-orang Kristen Armenia. Di mana mereka menganggap bahwa orang Kristen Armenia akan lebih setia kepada pemerintahan Kristen dibandingkan dengan Kekhalifahan Utsmaniyah.

Kebencian ini semakin parah, ketika Kekaisaran Utsmani tengah memasuki periode kemunduran. Pada akhir abad ke-19, Sultan Abdul Hamid II, meluapkan kemarahannya kepada orang-orang Armenia yang terus berupaya untuk memperoleh hak sipil mereka. Ia telah menyatakan tidak akan segan-segan untuk menindak tegas dan memadamkan ambisi revolusioner orang-orang Armenia tersebut.

Di antara tahun 1894-1896, pemerintahan Utsmani telah mengesahkan sebuah pogrom atau pembunuhan massal dengan tujuan untuk membasmi pergerakan revolusioner Armenia. Hal ini dilakukan sebagai respons dari protes besar-besaran yang dilakukan oleh orang Armenia. Sehingga, para pejabat militer Turki, tentara, dan orang-orang biasa turut menjarah wilayah Armenia, serta melakukan pembantaian. Atas kejadian ini, ratusan ribu orang Armenia terbunuh.

Pada tahun 1908, lahirlah sebuah pemerintahan baru yang berkuasa di Turki, yaitu sekelompok reformis yang menyebut dirinya sebagai Turki Muda dan berhasil menggulingkan kekuasaan Sultan Abdul Hamid, lalu mendirikan pemerintahan konstitusional yang dianggap lebih modern. Awalnya, orang-orang Armenia berharap akan mendapatkan hak yang sama dengan lahirnya kekuasaan baru ini. Tetapi, Turki Muda malah justru menerapkan banyak kebijakan yang lebih brutal daripada kekuasaan sebelumnya.

Bukan hanya kebijakan brutalnya saja, Turki Muda juga mengeluarkan slogan nasionalistik yang dikenal dengan Turkifikasi. Adanya slogan ini telah membentuk persepsi bahwa orang-orang non-Turki, khususnya orang Kristen non-Turki merupakan kelompok yang menjadi ancaman besar bagi negara. Di tahun 1914, Turki mulai memasuki Perang Dunia I, serta bergabung dengan poros Jerman dan Kekaisaran Austro-Hungaria. Pada waktu yang sama, otoritas agama Ottoman telah menyatakan jihad untuk melawan semua orang Kristen, kecuali sekutunya.

Saat itu, pemimpin militer mulai beranggapan bahwa orang-orang Armenia adalah pengkhianat. Mereka dituduh berambisi untuk mewujudkan keinginannya jika sekutu menang, sehingga terdapat banyak kemungkinan akan terjadinya pembelotan. Tuduhan pemerintahan Turki tersebut tidak salah. 

Ketika peperangan semakin masif, orang-orang Armenia mengorganisir battalion sukarela untuk membantu tentara Rusia berperang melawan Turki di wilayah Kaukasus. Akibatnya, pemerintahan Turki mengeluarkan kebijakan untuk membinasakan orang-orang Armenia dari zona perang di sepanjang Front Timur.

Genosida Armenia

Tepat pada tanggal 24 April tahun 1915, genosida Armenia dimulai. Saat itu, pemerintahan Turki mulai menangkap dan mengeksekusi ratusan intelektual Armenia. Kemudian, mereka juga memaksa warga sipil Armenia untuk keluar dari rumahnya dan harus berjalan menuju gurun Mesopotamia tanpa makan dan minum. Bukan hanya itu saja, para demonstran Armenia juga seringkali ditelanjangi dan dipaksa untuk berjalan di bawah terik matahari hingga mati. Orang-orang yang berhenti untuk istirahat akan ditembak langsung oleh mereka.

Di waktu yang sama, kaum muda Turki membentuk organisasi khusus yang dinamai dengan regu pembunuh untuk melaksanakan genosida. Regu pembunuh ini melakukan berbagai aksi kejam, seperti melemparkan orang Armenia dari tebing, menyalib dan membakarnya hidup-hidup, serta menenggelamkannya di sungai. 

Pada tahun 1922, ketika genosida berakhir, hanya ada 388.000 orang Armenia di Kekaisaran Utsmani. Setelah menyerahnya Turki Utsmani pada tahun 1918, para pemimpin Turki Muda itu melarikan diri ke Jerman, karena negara tersebut telah berjanji untuk tidak mengadili mereka. Namun, seperti yang kita tahu bahwa ada sekelompok nasionalis Armenia yang memang telah menyusun rencana untuk melacak dan membunuh para pemimpin genosida, yang dikenal dengan Operasi Nemesis. 

Sejak pelarian tersebut, pemerintahan Turki terus membantah adanya genosida Armenia tersebut. Mereka menganggap bahwa orang-orang Armenia dianggap sebagai kekuatan musuh dan pembantaian terhadap mereka merupakan tindakan perang yang wajar dan diperlukan. 

Saat itu, Turki memang menjadi sekutu penting Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, sehingga mereka enggan untuk mengutuk terjadinya tragedi genosida Armenia tersebut. Namun, pada tahun 2010, tepatnya bulan Maret, dalam sebuah panel, Kongres AS memilih untuk mengakui adanya genosida yang dilakukan Turki terhadap orang-orang Armenia.

Pengakuan Biden Atas Genosida Armenia

Adanya tragedi genosida Armenia ini mulai kembali diakui pada masa pemerintahan Joe Biden, dengan adanya keputusan Presiden Amerika Serikat yang mengakui pembantaian orang-orang Armenia oleh Kekaisaran Ottoman sebagai genosida. Hal ini tentu menimbulkan reaksi keras pemerintahan Turki. Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu menyatakan bahwa Negara Turki dengan sepenuhnya menolak istilah genosida yang diakui oleh Joe Biden. 

Pernyataan Joe Biden tersebut dianggap telah melukai hubungan yang telah terjalin antara Amerika Serikat dan Turki selama ini. Dan hal ini pun dianggap dapat merusak hubungan keduanya, sebagai sekutu utama Timur Tengah dan NATO. 

- Advertisement -

Tentang Penulis

Anna Zakiyyah Derajat
Pemerhati Sastra dan Kajian Timur Tengah

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru