Beginilah Pesan Ulama Al-Azhar tentang Jihad Bom Bunuh Diri

Dilansir dari beberapa sumber berita, aksi terorisme kambali terjadi di tanah air pada hari minggu (28/02/2021) di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan. Berdasarkan dari sumber informasi warga setempat, pelaku yang berjumlah dua orang langsung tewas di tempat kejadian. Sementara, masyarakat yang berada disekitarnya mengalami luka-luka baik ringan atau berat hingga mencapai 20 orang. 

Menengok kembali pada sejarah, Indonesia sebelumnya telah mengalami aksi teror yang terus berulang pasca peristiwa bunuh diri (tertabraknya pesawat) di WTC Washington DC, Amerika pada tanggal 11 september 2001. Peristiwa-peristiwa teror tersebut diawali pada tahun 2002, kemudian menyusul pada tahun 2005, 2010, 2017, 2018, 2019, 2020 hingga di bulan maret 2021 ini terulang kembali.

Aksi teror yang terjadi di Gereja Katedral Makasar pada hari minggu lalu, diduga adalah kelompok/jaringan Jamaat Ansharut Daulah (JAD) yang memiliki keterkaitan dengan aksi teror di Filipina. 

Seperti yang dikabarkan oleh polisi keamanan setempat, bahwa identitas pelaku pengeboman adalah laki-laki dan perempuan. Menurut pakar anti-terorisme (ATA), L adalah identitas dari pelaku teroris tersebut, yang merupakan jaringan JAD. L juga diketahui memiliki keterkaitan dengan peristiwa bom di Gereja Ketedral Jolo, Filipina pada tahun 2018 silam. 

Pada hakikatnya, aksi teror yang terjadi di berbagai negara dunia, bermula dari terbentuknya pemikiran konservatif dan radikal dalam memandang persoalan politik, sosial, ekonomi dan aspek-aspek lainnya. 

Menurut kelompok tersebut, jihad seperti aksi teror atau bom bunuh diri merupakan sebuah perintah, yang dianggap melawan penyimpangan atau kezaliman terhadap nilai-nilai Islam. Jika Al-Qur’an dibersamai dengan metodologi yang benar dalam memahaminya, maka ia akan melahirkan hidayah. 

Namun, jika Al-Qur’an tidak dibarengi dengan metodologi yang benar dalam memahaminya, maka akan melahirkan karakter beragama seperti kelompok atau jaringan teroris; Khawarij, ISIS, Al-Qaeda dan termasuk JAD yang diduga bermarkas di Filipina itu.

Menurut Syekh Ali Jum’ah, zaman sudah begitu global, di negara manapun pasti ada saja atau ditemukan kaum muslim hidup di sana. Terutama, saat memasuki periode Islam kotemporer (migrasi muslim besar-besaran ke berbagai negara di dunia) awal abad ke 20. 

Apa yang dilakukan oleh negara mayoritas muslim bisa memengaruhi kehidupan minoritas muslim. Kita dapat melihat bagaimana diskriminasi yang terjadi terhadap umat Islam di Rohingya, Uyghur, India dan dibeberapa negara minoritas muslim lainnya. 

Masyaikhuna Ali Jum’ah selalu mengingatkan kepada kita, agar selalu behati-hati dalam bersikap. Perlu melihat situasi dan kondisi. Apakah yang demikian, mengakibatkan citra Islam dijunjung atau dihinakan. 

Jika kita ingin menyampaikan pesan Islam dalam bentuk yang membuat umat terpesona. Bukan untuk dijauhi dan membuat orang non-muslim benci atau lari bahkan mengidentitaskan kita (Islam) sebagai agama teroris yang radikal dan konservatif. 

Adapun macam-macam dakwah yang terefleleksi di era ini. Di antaranya; dengan cara membantah (al-Raddu), menyerang (al-Hujum), dan menerangkan (al-Bayan). Menurut Syekh Ali Jum’ah, dakwah yang patut dicontoh adalah yang diajarkan oleh Rasul Saw kepada kita, yakni menerangkan (al-Bayan). 

Sehingga, dengan dakwah yang dilandasi kasih sayang, lemah lembut dan menerangkan risalah-risalahnya tanpa harus mencaci apalagi melakukan tindakan kekerasan. Tentu, akan menjadikan identitas Islam di mata orang non-muslim sebagai agama perdamaian (Rahmatan Lil ‘Alamin). 

Grand Syekh Al-Azhar (Syekh Ahmad Tayyib) juga mencontohkan kepada kita bagaimana menjaga hubungan yang baik dengan sesama manusia. Baik itu inter dan intra religiusitas. Beliau telah menjadi pelepor perdamaian dunia dalam organisasi Persaudaraan kemanusiaan Arab (Human Fraternity) yang bertujuan untuk menyatukan umat seluruh agama di dunia. 

Selain itu, Grand Syekh Ahmad Tayyib berpesan kepada kita semua, bahwa bersaudara itu ada dua macam. Yang pertama adalah persaudaraan atas dasar sesama muslim, dan yang kedua adalah persaudaraan atas dasar sesama manusia. 

Islam adalah agama yang cinta damai tanpa memandang agama, warna kulit dan ras. Islam tidak membalas perbuatan radikal dengan aksi teror. Namun, Islam membalasnya dengan cara berdiplomasi yang dilandasi rasa kemanusiaan sebagai sesama manusia di muka bumi ini. 

Dari perspektif Islam yang mengajarkan cinta damai sejak zaman Rasul Saw, aksi teror dan bunuh diri bukanlah cerminan dari Islam. Jika kelompok Islamis mengaku berislam, namun kedudukan seorang muslim jauh lebih mulia dibandingkan kelompok Islamis, begitulah yang dikatakan oleh Habib Ali Jufri. 

Sebagai penutup, pelaku teror atau aksi bunuh diri telah memberikan dampak yang buruk bagi dirinya sendiri, orang lain dan juga agama. Untuk dirinya dan orang lain (pelaku teror) telah menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Karena telah mengorbankan nyawanya untuk menghilangkan nyawa-nyawa orang yang tidak bersalah. Untuk agama (aksi teror) telah memberikan citra negatif terhadap identitas Islam di mata orang non-muslim. 

- Advertisement -

Tentang Penulis

Idha Ismalia Rohmatika
Observer of middle eastern and gender studies

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru