Bagaimana Rezim Komunis Mengusir Para Intelektual Mereka

Pada tahun 1922, terjadi sebuah peristiwa di mana otoritas Soviet yang saat itu dibawah tangan besi Lenin mengusir beberapa intelektual hebat mereka dengan sebuah kapal. Belakangan peristiwa ini dikenal dengan sebutan ‘Philosophy Steamer’. Kira-kira mengapa Lenin menyingkirkan mereka? Padahal pengetahuan mereka bisa jadi sangat bermanfaat untuk negara? 

Secara keseluruhan, lebih dari 160 orang—termasuk keluarga para intelektual yang diusir tersebut—terpaksa harus meninggalkan negaranya. Di dalamnya termasuk para profesor, dokter, dosen, ekonom, penulis, hingga tokoh politik dan agama. Meskipun mereka semua berasal dari latar belakang yang berbeda, paling tidak mereka memiliki satu kesamaan: Menentang rezim Komunis.

Oleh rezim Soviet, mereka tidak diizinkan untuk membawa banyak barang atau harta-benda. Mereka hanya boleh membawa dua pasang pakaian dalam, kaus kaki, sepatu, jaket, celana panjang, mantel, dan topi saja. Selebihnya, seperti uang dan perhiasan tidak diizinkan—semua barang berharga, termasuk obligasi, disita oleh pemerintah saat itu.

Budak Ideologis Kaum Borjuasi

Banyak dari mereka yang diusir tersebut adalah para pemikir dan cendekiawan jempolan Rusia. Yang paling terkenal adalah Pitirim Sorokin, salah satu tokoh penting dalam sosiologi kontemporer. Ada juga para penulis terkenal dan filsuf non-Marxis, seperti Sergei Bulgakov, Nikolai Berdyaev, Nikolai Lossky, Ivan Ilyin, dan Semyon Frank yang mana merupakan tokoh-tokoh penting dalam filsafat Rusia.

Salah satu alasan mengapa otoritas Soviet saat itu mengusir begitu banyak tokoh intelektual mereka adalah karena antara pemerintah dan para intelektual buangan tersebut memiliki banyak perbedaan pandangan, terutama pandangan dalam hal pendidikan.

Pada tahun 1921, Bolshevik yang mengekang otonomi pendidikan, terutama di lingkungan universitas dengan tujuan untuk menciptakan masyarakat yang sosialis dan supaya bisa mengendalikan pusat-pusat pendidikan itu memicu banyak penolakan di beberapa kalangan intelektual.

Meskipun secara umum, rezim komunis memberikan begitu banyak perhatian pada bidang pendidikan saat itu, dan bahkan secara aktif memerangi buta huruf masyarakatnya. Namun, banyak yang menganggap reformasi pendidikan yang dilakukan oleh pemerintahan yang masih muda itu—teledor sehingga menyebabkan banyak ketidakpuasan di sana-sini. 

Namun, ada juga hal lain yang juga menjadi sebab ketidakpuasan atas kebijakan tersebut; Banyak dari para intelektual di masa itu adalah para pemikir yang religius yang mana karena kebijakan pendidikan yang baru itu menyebabkan mereka tidak lagi begitu penting di Rusia yang mana notabene berpaham Ateis di bawah ideologi Komunis. Ini menjadi jelas jika seseorang melihat artikel Lenin pada Maret 1922.

Dalam artikelnya, Lenin mengaitkan antara agama dengan tren filsafat non-Marxis modern dengan para borjuasi—yang dianggap sebagai musuh bebuyutan bagi negara proletar Rusia yang baru. Menurut Lenin, para pemikir religius dan pendukung filsafat modern lainnya adalah para “budak ideologis kaum borjuis” yang berambisi untuk menegakkan sistem kapitalis lama di Rusia. 

Ia percaya bahwa orang-orang borjuasi memanipulasi massa dengan menggunakan ide-ide yang reaksioner, terutama dengan cara menggunakan agama. Olehnya untuk menghadapi itu, mau tidak mau Soviet harus menyingkirkan paham-paham tersebut, sekalipun dengan cara paksa, termasuk membuang para cendikiawan-cendikiawannya. 

Namun di sisi lain, ada juga dimensi lain dari masalah tersebut. Seperti yang pernah dicatat oleh pemikir sosial Sergei Kara-Murza dalam bukunya “The Collapse of The USSR”, bahwa kaum Bolshevik membangun negara yang ideokratis paternalistik di bawah gagasan bahwa keadilan yang dimiliki bersama. 

Ideologi ini tentu memainkan peran yang sangat penting dalam sistem ini. Dengan demikian, kaum Bolshevik tidak akan mentolerir ide-ide lain yang dianggap berbeda, apalagi ideologi yang dianggap menjadi pesaing mereka.

Salah satu tokoh yang menjadi korban pengusiran pada saat itu adalah Nikolai Berdyaev. Setahun setelah Berdyaev diusir ia menulis dalam bukunya yang berjudul “The Philosophy of Inequality” bahwa: “Negara sosialis bukanlah negara sekuler, itu adalah negara yang sangat sakral… Sistem itu menyerupai teokrasi—yang sangat otoriter. Partai Komunis itu sangat tersentralisasi dan memiliki kekuatan diktator.” 

Masih di buku yang sama Berdyaev juga menulis bahwa, “Kami (yang diusir saat itu) tak lain menganggap bahwa filsafat sebagai ‘palu untuk mengubah dunia.’ Kami tidak percaya pada subordinasi pengetahuan dan integritas intelektual dari program politik.”

Inilah barangkali yang menjadi sebab mengapa Lenin menganggap para intelektual buangan tersebut sebagai musuh dan “mata-mata militer”. Bahkan rekan seperjuangannya, Leon Trotsky, pun melangkah lebih jauh lagi. Trotsky menyatakan: “Kami mengusir orang-orang itu karena kami tidak memiliki alasan untuk menembak mati mereka, sementara di sisi lain kami juga mustahil untuk membiarkan mereka begitu saja.”

- Advertisement -

Tentang Penulis

Fadlan
Alumni Akidah dan Filsafat Islam IAIN Palu dan pendiri Lingkar Studi Filsafat Sophia Palu. Minat dengan kajian filsafat, sains, tasawuf, dan cerita-cerita rakyat

Penulis Lainnya

65 KIRIMAN0 KOMENTAR
59 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
16 KIRIMAN0 KOMENTAR
10 KIRIMAN0 KOMENTAR
3 KIRIMAN0 KOMENTAR
0 KIRIMAN0 KOMENTAR
- Advertisement -

Terbaru